Dapatkan Segera Buku & Hasil Penelitian PPIM UIN Jakarta Download Sekarang

Pakar: Perlu Kolaborasi Redam Konservatisme Agama di Medsos

Pakar: Perlu Kolaborasi Redam Konservatisme Agama di Medsos

Jakarta, PPIM – Pakar kajian media sosial dan agama, Alila Pramiyanti, menyebut pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam meredam narasi konservatisme beragama di media sosial. Dosen Telkom University menyampaikan hal ini sebagai komentar atas temuan terbaru penelitian PPIM melalui program Media and Religious Trend in Indonesia (MERIT) yang bertajuk “Beragama di Dunia Maya: Media Sosial dan pandangan Keagamaan di Indonesia”, Senin (16/11).

“Penelitian ini menarik dan komprehensif sekali, bisa membuka pandangan kita tentang bagaimana sebetulnya narasi konservatisme menyebar di sosial media (sosmed) terutama di Youtube dan Twitter,” ungkap Alila

Alila yang telah lama menggeluti kajian sosmed dan agama ini juga turut merespon baik temuan PPIM UIN Jakarta terkait tren perempuan di media sosial yang terus meningkat. Riset ini menemukan bahwa narasi paham keagamaan di sosial media didominasi oleh kelompok konservatif yaitu sebesar (67.2%), disusul moderat (22.2%), liberal (6.1%), dan Islamis sebesar (4.5%). Selain itu, temuan penelitian PPIM juga memperlihatkan bahwa perempuan lebih rentan terhadap paparan fanatisme paham keagamaan di banding laki-laki

Alila mengamini hasil penelitian tersebut. Menurutnya, perempuan memiliki pengaruh yang besar di sosial media, terutama di kanal youtube dan instagram. Menurutnya, komunitas seperti hijabers dan niqobers kini telah memenuhi postingan di kanal-kanal sosial media.

“Mereka menggunakan medsos untuk mempertahankan Islamic values, menjadi salehah dengan mengutip ayat Al-Qur’an dan hadis, menjadi aktivis dakwah Islam, dan belajar Islam dengan komunitas yang memiliki pandangan yang sama. Pada saat yang sama, kelompok ini juga ingin tetap eksis berselfie ria. Selain itu, mereka juga berupaya menchallanged stereotipe perempuan bahwa perempuan masa kini berbeda dengan kelompok dahulu, di mana perempuan identik dengan tertinggal,” papar Alila.

Untuk itu, Alila memberikan rekomendasi mengenai pentingnya kolaborasi dalam meredam narasi konservatif ini. Ia mencontohkan peran perempuan seperti Alissa Wahid yang bisa dimaksimalkan untuk memviralkan isu-isu keagamaan yang moderat.

“PPIM perlu memaksimalkan kolaborasi komunitas online-offline yang berbasis keagamaan untuk menyebarkan pesan moderasi supaya narasi konservatif ini mereda. Selain itu, PPIM perlu memperluas data collecting dengan menginterview tidak hanya ustaz tapi juga ustazah juga, dan juga menginterview users perempuan yang mempunyai pengaruh di sosial media, tutup Alila di akhir diskusi.

Selain Alila, rilis penelitian ini turut menghadirkan pakar dan peneliti yang mengkaji agama dan media. Nama-nama seperti Dr. Pribadi Sutiono (Asisten Deputi Koordinasi Kerjasama Asia, Pasifik, dan Afrika, Kemenko Pulhukam) dan Prof. M. Adlin Sila (Kepala Pusat Litbang Bimbingan Masyarakat Agama dan Layanan Keagamaan, Kementerian Agama) juga turut serta hadir membahas hasil penelitian ini.

 

 

Penulis: Tati Rohayati
Editor: M. Nida Fadlan

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


X