Dapatkan Segera Buku & Hasil Penelitian PPIM UIN Jakarta Download Sekarang

Rawat Manuskrip Kuno, Manassa: Jangan Tunggu Besok!

Rawat Manuskrip Kuno, Manassa: Jangan Tunggu Besok!

Jakarta, PPIM – Sekretaris Umum Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa), Pramono, mengajak semua pihak bersinergi dalam menyelamatkan manuskrip Nusantara. Bahkan, Dosen Universitas Andalas Padang ini menuntut reaksi cepat dari sejumlah pihak saat mengetahui keberadaan sebuah koleksi manuskrip milik masyarakat.

Dalam upayanya menyelamatkan manuskrip khususnya di Minangkabau, Pramono dan para pegiat budaya di Sumatera Barat menerapkan prinsip-prinsip tertentu. Baginya, penyelematan manuskrip harus sesegera mungkin dilakukan dengan menerapkan save and search yang berarti cari dan selamatkan tanpa ditunda-tunda.

“Kalau bisa hari ini, kenapa harus besok?”, ungkapnya dalam “Webinar Series on Indonesian Digitised Manuscripts” bertema “Digitalisasi, Mendampingi Masyarakat Merawat Manuskrip Nusantara” yang diselenggarakan oleh PPIM UIN Jakarta melalui program DREAMSEA dan kerja sama dengan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa), Rabu (16/12).

Ajakan Pramono memang beralasan. Dirinya sudah lebih dari dua dekade mengarungi jagat pernaskahan Nusantara, khususnya di ranah Minang. Khususnya di surau-surau, hampir seluruh pelosok Sumatera Barat disebutnya memiliki potensi tradisi tulis kuno terkecuali Kepulauan Mentawai yang memang belum sempat dikunjunginya.

“Selama 20 tahun ini, kita seringkali terlambat mengetahui dan menemukan naskah-naskah yang tersimpan di masyarakat. Ada banyak hal yang tidak diduga akan terjadi sehingga kita tidak akan bisa lagi mendapatkan kesempatan kedua untuk mengakses manuskrip-manuskrip itu. Meski demikian, tidak ada kata terlambat untuk terus mengupayakan penyelamatannya sesegera mungkin,” ujar doktor filologi dari Universitas Malaya ini.

Meskipun demikian, ia menekankan pentingnya menjaga etika dan kesabaran dalam penyelamatan dan penelitian manuskrip yang disimpan oleh masyarakat. Seringkali Pramono harus menunggu bertahun-tahun untuk mendapat kepercayaan dalam membuka dan menyelamatkan manuskrip-manuskrip itu. Dia juga terus berjuang mendampingi dan memberikan pemahaman yang baik kepada masyarakat mengenai perawatan manuskrip dengan cara yang benar.

Pramono pun memberikan apresiasi kepada PPIM yang turut serta menyelamatkan manuskrip di Minangkabau khususnya di Sijunjung dan Solok. Menurutnya, PPIM melalui program DREAMSEA adalah bukti pentingnya saling bersinergi dalam melakukan pelestarian manuskrip milik masyarakat. Selanjutnya, ia tengah berupaya untuk meyakinkan pemerintah daerah setempat agar turut serta dalam kegiatan itu sambil menjalankan amanat UU Pemajuan Kebudayaan Tahun 2017.

Webinar Manuskrip Digital adalah diskusi bulanan yang disiarkan langsung melalui kanal Youtube “DREAMSEA Manuscripts”. Selain Pramono, diskusi seri kedua yang dimoderatori oleh Muhammad Nida Fadlan (Data Manager DREAMSEA) ini dihadiri juga oleh Wiwin Indiarti, M,Hum (Pegiat Mocoan Lontar Yusup Milenial Banyuwangi) dan Ki Tarka Sutarahardja (Budayawan Indramayu) sebagai narasumber.

 

Penulis: Abdullah Maulani
Editor: M. Nida Fadlan

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


X