Dapatkan Segera Buku & Hasil Penelitian PPIM UIN Jakarta Download Sekarang

Respons Tanggap Kendalikan Hoaks Pandemi Covid-19 di Kalangan Anak Muda

Respons Tanggap Kendalikan Hoaks Pandemi Covid-19 di Kalangan Anak Muda

Jakarta, PPIM – Hasil survei Pusat Pengajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta pada bulan September hingga Oktober 2021 lalu menemukan sebanyak 48% siswa memiliki sikap pesimisme dengan percaya bahwa sepatuh apa pun mereka menaati protokol kesehatan di era pandemi Covid-19, manusia akan tetap dikuasai oleh takdir. Dari survei yang sama juga menemukan 42,88% siswa percaya bahwa vaksin bertentangan agama.

PPIM UIN Jakarta resmi meluncurkan hasil survei nasional dengan tema “Anak Muda dan Covid-19: Berbineka Kita Teguh, Ber-Hoax Kita Runtuh” pada Rabu, 5 Januari 2022 lalu melalui platform Zoom Meeting dan Youtube.

Acara peluncuran survei dibuka dengan Welcoming Speech oleh Prof. Ismatu Ropi, Ph.D. sebagai Direktur Eksekutif PPIM UIN Jakarta. Peluncuran survei ini dimoderatori oleh Prof. Jamhari Makruf, Ph.D selaku Team Leader CONVEY Indonesia. Acara dimulai dengan pemaparan hasil survei oleh kedua peneliti PPIM UIN Jakarta, Dr. Yunita Faela Nisa, M.Psi, Psikolog dan Narila Mutia Nasir, MKM, Ph.D. Mereka menemukan problematika yang terjadi pada siswa terkait pandemi Covid-19. Di antaranya 41,2% siswa mengabaikan perintah cuci tangan, 20,1% siswa belum konsisten menggunakan masker, 64,8% siswa mengaku masih berkumpul dengan teman, 41,4% siswa saat berkumpul tidak menjaga jarak sesuai ketetapan yang berlaku, 52,58% siswa belum divaksin sepanjang periode September hingga Oktober 2021, 42,88% siswa mengglorifikasi vaksin bertentangan dengan agama mereka, 39% siswa percaya pandemi Covid-19 merupakan hukuman Tuhan, 48% siswa bersikap pesimis saat pandemi Covid-19 karena mereka merasa sepatuh apa pun mereka di tengah pandemi Covid-19, hal itu tidak akan menghentikan laju penyebaran virus, 20,5% siswa percaya Covid-19 hanyalah flu biasa yang hanya diglorifikasi oleh beberapa pihak tertentu, 31,5% siswa menjustifikasi rumah sakit sengaja memberi hasil positif pada pasien Covid-19 demi mendapat dana bantuan, bahkan 20,5% siswa yang disurvei meyakini bahwa Covid-19 merupakan senjata biologis negara maju untuk negara berkembang.

Temuan survei di atas sangat menarik untuk diperbincangkan oleh kelima narasumber. Narasumber pertama–dr. Iqbal selaku Ditjen P2P Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang menggantikan dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid selaku Jubir Satgas Covid-19 yang tidak bisa hadir di acara ini. Ia menyampaikan rasa terima kasih terhadap PPIM UIN Jakarta atas survei yang dilakukan mengingat Pemerintah Indonesia sangat berfokus untuk menghentikan penyebaran virus di tengah ancaman varian omicron yang dapat mengganggu kegiatan masyarakat. Terlebih lagi, saat ini kegiatan Pertemuan Tatap Muka (PTM) sudah mulai dilaksanakan sekolah di seluruh Indonesia. Menurutnya, seluruh komponen harus mematuhi protokol kesehatan yang telah diatur agar penyebaran virus dapat dikendalikan.

Narsumber kedua–Sulfikar Amir, Ph.D. selaku Associate Professor of Sociology, NTU Singapore menanggapi hasil survei PPIM UIN Jakarta dengan menyatakan bahwa sikap pesimisme yang terdapat di dalam siswa muncul akibat mereka pasrah terhadap ketidakpastian selama pandemi Covid-19. Dalam hal ini, ia juga menyatakan peran sosial yang dimiliki oleh agama cukup fundamental dalam menghadapi ketahanan bencana. Namun, ia menyatakan pandemi Covid-19 memiliki kompleksitas dan agama tidak menjadi variabel satu-satunya dalam pandemi Covid-19. Ia juga menyarankan agar survei yang direkomendasikan kepada pemangku kepentingan harus dibuat spesifik agar lembaga negara memahami peran yang harus mereka laksanakan menghadapi pandemi ini.

Selanjutnya narasumber ketiga adalah Henny Supolo Sitepu, M.A. sebagai Ketua Yayasan Cahaya Guru. Ia mengapresiasi survei penelitian yang dilakukan PPIM UIN Jakarta karena baik untuk masa depan pendidikan di Indonesia. Menurutnya, hasil survei yang terkait dengan teori konspirasi Covid-19 terjadi bukan hanya pada siswa saja, melainkan orang dewasa pun juga demikian. Terlebih lagi, pejabat publik menjadi kurikulum tersembunyi siswa yang menjadi acuan mereka untuk menaati protokol kesehatan atau tidak. Terakhir, ia menyampaikan saran bahwa kita harus sering mengangkat berita yang positif agar memberi cahaya harapan Indonesia bisa keluar dari jeratan pandemi ini.

Berikutnya adalah Sakdiyah Ma’ruf, seorang Standup Comedian. Menurutnya, penelitian yang dilakukan oleh PPIM UIN Jakarta ini dapat menjadi wake-up call bagi semua pihak untuk menemukan solusi. Ia juga menyampaikan harapan kepada pemuda untuk menjadi bagian dari penemuan solusi tersebut. Selain itu, Sakdiyah juga menyatakan pejabat publik harus menjadi contoh bagi anak bangsa, sebab semua tingkah mereka akan menjadi parameter dalam tingkat kepatuhan terhadap protokol kesehatan anak bangsa. Terakhir, Sakdiyah juga menyampaikan harapan agar anak perempuan juga dilibatkan sebagai pemimpin dalam menyebarkan narasi tentang pentingnya vaksinasi.

Terakhir, peluncuran survei ini juga dihadiri oleh dr. Tirta Mandiri Hudhi selaku Doctorpreneur. Ia menyampaikan Indonesia seharusnya bersyukur karena varian omicron saat ini relatif terkendali. Selain itu, dr. Tirta juga berharap penyampaian edukasi Covid-19 di Indonesia dilakukan oleh satu pintu dengan orang yang berkompeten di bidangnya agar tidak terjadi infodemik akibat banyak informasi yang bertebaran. Ia juga menyampaikan harapan agar Indonesia tidak boleh terlalu gembira menanggapi kasus Covid-19 yang semakin sedikit. Semua harus tetap mematuhi protokol kesehatan.

Penulis: Pang Muhammad

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


X