Dapatkan Segera Buku & Hasil Penelitian PPIM UIN Jakarta Download Sekarang

Jadi Profesor, Ismatu Ropi Kritik Keberagamaan Indonesia

Jadi Profesor, Ismatu Ropi Kritik Keberagamaan Indonesia

Jakarta, PPIM – Ismatu Ropi, Direktur Eksekutif PPIM UIN Jakarta dikukuhkan sebagai profesor dalam bidang perbandingan agama oleh Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Amany Lubis di Gedung Auditorium Harun Nasution, Selasa (17/5). Sebelum dilantik, Ismatu menyampaikan orasi ilmiahnya yang berjudul “Heresiologi dan Keberagamaan di Persimpangan Jalan: Memahami Konteks Kontestasi Ortodoksi dan Heterodoksi Agama di Indonesia”.

Pria yang akrab disapa Ismet ini menyoroti perilaku keberagamaan bangsa Indonesia baru-baru ini. Menurutnya, citra bangsa Indonesia yang dulunya dikenal ramah, santun, toleran dan menghargai perbedaan, kini justru memudar.

“Namun, dalam dua dasawarsa terakhir ditemukan fenomena yang berbeda, di mana Umat beragama menjadi cenderung mudah marah dan anti perbedaan. Pun, merasa superior, dan kelompok yang berbeda dianggap kafir, musyrik, dan sesat,” ungkap Ismet menyatakan keprihatinannya.

Ismet menambahkan, umat beragama di Indonesia kini memiliki prasangka dan sikap yang menuduh dan mengakuisisi orang lain yang berbeda adalah sesat, atau apa yang disebut “heresiologi” dalam studi agama-agama. Alumni Pondok Pesantren Daar El-Qolam Tangerang ini memberi contoh berbagai tragedi yang terjadi belakangan ini di Indonesia.

“Masih ada dalam memori ingatan kita, kepedihan dan rasa malu yang ditimbulkan oleh pembantaian Ahmadiyah di Banten, Syi’ah di Madura yang dianggap sesat, serta masih banyak lagi contoh kenestapaan dalam relasi sosial keagamaan yang begitu menyedihkan” ungkap peraih gelar Disertasi Terbaik, Ann Bates Postgraduate Prize for Indonesian Studies, dari Australian National University (ANU) ini.

Heresiologi ini, menurut Ismet, menunjukkan sebuah perilaku yang dilakukan oleh pemimpin agama atau penguasa dalam merespon kemunculan ajaran-ajaran atau gerakan-gerakan yang dianggap berbeda. Respon tersebut pada umumnya mereka kutip dari nomenklatur ortodoksi berkaitan dengan konsep dan atribut keagamaan seperti Tuhan, eksistensi nabi, kitab suci, dan inovasi ajaran agama.

“Kini, kenapa tiba-tiba sebagian dari kita kehilangan kemanusiaan, dan penghargaan terhadap perbedaan? juga kenapa kelompok mayoritas menjadi ancaman bagi minoritas? Pun, kenapa tiba-tiba kelompok minoritas menjadi musuh bersama?” tanya Ismet.

Heresiologi ini lanjut Ismet, terjadi tidak hanya di Indonesia, tapi hampir di berbagai belahan dunia. Kemunculannya, dipicu ketika sebuah agama mengalami proses pemapanan atau institusionalisasi dan standarisasi menyangkut ajaran, dogma, praktek-praktek keagamaan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang mereservasi klaim kebenaran dari agama tersebut, atau mereservasi klaim kelompok yang dianggap paling dekat dengan keselamatan.

“Penting digarisbawahi bahwa perubahan landscape keagamaan ini dipicu oleh apa yang disebuat “in illo tempore” dalam studi agama-agama, yakni proses kembali kepada kesucian awal karena agama-agama yang telah mapan dan besar dianggap sudah tercemar dan ternoda,” kata Ismet.

Di sesi akhir orasi ilmiahnya, Ismet mempromosikan gagasan “Indonesia Rumah Kita Bersama.” Dia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk mendorong secara aktif penyelesaian kasus sengketa keberagamaan antar agama khususnya di Indonesia, melalui sistem hukum yang mengedepankan kesetaraan dengan keadilan “equality with fairness”.

Penulis: Tati Rohayati
Editor: M. Nida’ Fadlan

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


X