Jakarta, PPIM – Tb. Ace Hasan Syadzily, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, menyampaikan bahwa isu moderasi beragama di dalam dunia pendidikan menjadi sangat penting untuk dibahas, karena tumpuan moderasi beragama semangat dan akarnya ada pada pendidikan.

“Sangat relevan dan tepat sekali membicarakan moderasi beragama, itu terkait juga dengan bagaimana proses pendidikan yang harus dilakukan dari mulai di bangku sekolah, di lingkungan keluarga, hingga di lingkungan sekolah,” pernyataan ini disampaikan Ace dalam Webinar Series #ModerasiBeragama bertema “Moderasi Beragama dalam Pendidikan Agama Islam” yang diselenggarakan oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta melalui program CONVEY Indonesia, Jumat (25/9).

Dalam diskusi yang diselenggarakan secara daring itu, politisi lulusan UIN Syarif Hidayatullah ini juga menyoroti penyebab munculnya kerukunan umat beragama yang kerap kali melahirkan berbagai masalah.

“Indonesia, sebagai negara yang masyarakatnya majemuk, masalah kerukunan umat beragama ini sering kali melahirnya banyak masalah, meskipun masalahnya tidak semua terjadi di wilayah indonesia, tapi selalu mengalami pasang surut. Di antara penyebabnya yaitu, adanya pandangan agama yang sektarian; munculnya politisasi agama yang memanfaatkan agama untuk kepentingan politik; pendirian rumah ibadah yang memunculkan berbagai macam problematika dalam hal kerukunan agama; dan terakhir yaitu munculnya populisme agama yang selalu ada kaitannya dengan kepentingan politik,” papar pria kelahiran Pandeglang, Banten ini.

Dalam kaitannya pendidikan, Ace mengamini hasil survei PPIM (2018) bahwa pada level opini, sebanyak 58% siswa mempunyai pandangan radikal dan intoleran. Selain siswa, guru di Indonesia dari tingkat TK/RA hingga SMA/MA memiliki opini intoleran dan radikal yang tinggi. Persentase guru yang memiliki opini intoleran sebanyak 56%, dan guru yang memiliki opini radikal sebanyak 46.09%.

Sedangkan pada level aksi, menurut Ace ISIS telah berhasil mengubah jihad menjadi urusan keluarga, dengan peran semua orang. Kajian Sidney Jones misalnya, bahwa sekitar 40 perempuan dan 100 anak-anak di bawah 15 tahun berada di Suriah, sebagian merasa terjebak oleh ajakan untuk berjihad sebagian lain memang berkesadaran penuh menjadi bagian dari ISIS.

Oleh karena itu, Ace menawarkan langkah-langkah strategis dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi dalam kehidupan keagamaan yang intoleran dan radikal terutama pada level pendidikan yaitu dengan pengarusutamaan moderasi beragama dan kerukunan umat beragama.

“Menyelesaikan pada level hulu yaitu soal pendidikan, lalu menyelesaikan pada level hilir yaitu outputnya,” ungkap Ace.

Langkah yang tepat dalam moderasi bergama pada level pendidikan, pertama, harus menanamkan pendidikan yang inklusif mulai dari pendidikan dasar hingga tinggi. Kedua, memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan gagasan moderasi beragama. Ketiga, moderasi beragama penting di era disrupsi, mengingat munculnya politisasi agama karena ada agenda politik tertentu, dan agama menjadi salah satu area yang mudah di masuki.

“Penguatan moderasi bergama itu terletak pada guru-guru PAI, yang ada di sekolah SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi baik negeri maupun swasta, kenapa? Karena salah satu di antara penetrasi ideologi intoleran yang paling mudah disemai adalah pada peserta didik yang tidak memiliki basic pemahaman keagamaan yang fundamental, sehingga penguatan pemahaman dan pengembangan kompetensi bagi guru PAI di sekolah mutlak harus di lakukan,” papar Ace.

Selain itu, perlu mendorong lebih banyak forum diskusi moderasi beragama untuk guru dengan menghadirkan berbagai macam latar belakang spektrum keragaman dari forum-forum diskusi. Juga memberikan orang tua siswa pemahaman lebih mendalam tentang moderasi bergama dan cara menghadapi ancaman paham radikalisme serta memberikan bantuan jika mereka butuh pertolongan.

“Moderasi beragama tidak hanya di lingkungan sekolah, tapi juga harus di bangun di dalam lingkungan keuarga” tutup Tb Ace di akhir diskusi.

Webinar Moderasi Beragama ini dilaksanakan setiap Jum’at melalui kanal Youtube “PPIM UIN Jakarta” dan “Convey Indonesia”. Selain Ace, diskusi yang dimoderatori oleh Team Leader Convey Indonesia, Jamhari Makruf, ini menghadirkan juga praktisi pendidikan lainnya yaitu, Mahnan Marbawi (Ketua Umum DPP Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia) dan Dyah Salsabil (Guru PAI Kementerian Agama Bandung Barat).

Penulis: Tati Rohayati
Editor: M. Nida Fadlan