Jakarta, PPIM – Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Bandung Barat, Dyah Salsabil, mengungkap fakta mengejutkan terkait kompetensi guru di lapangan. Ia menyebut bahwa banyak guru PAI yang minim dalam wawasan keagamaannya.

“Banyak guru juga secara kompetensi dinilai kurang wawasan keagamaannya. Ada yang bersikap eksklusif, menganggap benar pemikirannya sendiri. Akhirnya dia mudah membid’ahkan dan menganggap sesat pemikiran yang berbeda dengannya,” ungkap Dyah dalam webinar series #ModerasiBeragama dengan tema “Moderasi Beragama dalam Pendidikan Agama Islam” yang diselenggarakan oleh PPIM UIN Jakarta melalui program Convey Indonesia, Jumat (25/9).

Dyah menyebut salah satu penentu sikap guru semacam itu disebabkan karena ketersediaan kurikulum. Menurutnya, kurikulum belum mengakomodir keragaman dalam beragama. Ia memberikan contoh pelajaran mengenai qunut yang terdapat dalam buku teks yang menjadi perdebatan oleh peserta didik yang tidak menggunakan qunut.

“Kurikulum atau buku teks harusnya mengajarkan keragaman yang dapat mengakomodir perbedaan pemikiran di antara peserta didik,” harap Dyah.

Selain kurikulum, faktor penentu lainnya adalah metode pembelajaran yang masih bersifat ritual, eksklusif dan dogmatis. Dyah mencontohkan yang dimaksud ritual misalnya mengajarkan sholat hanya sebatas rukun, bacaan, dan gerakannya saja, tapi tidak dianalisis manfaat sholat, seperti apa implementasinya. Begitupun dogmatis, hanya mengajarkan jika berdosa akan ditempatkan di neraka, jika banyak amalan akan ditempatkan di surga, namun tidak dijelaskan lebih dalam mengenai hablumminallah (hubungan dengan Allah) dan hablumminannaas (hubungan dengan sesama manusia).

Lebih lanjut Dyah menuturkan, dukungan dari masyarakat, orang tua peserta didik, dan sekolah menjadi tantangan lain dalam mewujudkan pemahaman moderasi beragama. Perbedaan pemikiran menurutnya dapat diminimalisir dengan komunikasi dan dialog.

Untuk itu demi mewujudkan PAI yang moderat, lanjut Dyah, perlu kerjasama yang baik dan berkesinambungan. “Pembenahan dimulai dari kurikulum, perekrutan guru PAI yang tidak hanya kompeten dalam pemahaman agama, namun juga memiliki wawasan kebangsaan. Selain itu perlu adanya peningkatan wawasan metodologi pengajaran dan pembinaan tentang wawasan Islam yang moderat secara berkala dan kontinyu,” ujar wanita yang saat ini tengah mengenyam pendidikan S3 bidang Religious Studies di UIN Sunan Gunung Djati Bandung ini menyimpulkan.

Dyah juga menekankan beberapa poin tentang pentingnya moderasi beragama. Pertama, karena bangsa Indonesia adalah negara yang multikultur, perbedaan adalah sunatullah, keragaman adalah rahmat. Kedua, keterbukaan informasi dari berbagai media, terutama dari internet, sangat bebas dan bisa diakses siapapun. Dikhawatirkan ketika peserta didik mencari sesuatu yang tidak memuaskan di sekolah, mereka mencari di sumber-sumber yang belum tentu valid, sehingga dikhawatirkan memahami ayat-ayat secara mentah sehingga muncul paham radikal. Ketiga, pembelajaran PAI dan budi pekerti seyogyanya adalah pembelajaran yang mengajarkan ramah, toleran, dan menghargai keberagaman.

Webinar Moderasi Beragama ini dilaksanakan setiap Jumat melalui kanal Youtube “PPIM UIN Jakarta” dan “Convey Indonesia”. Selain Dyah, diskusi yang dimoderatori oleh Team Leader Convey Indonesia, Jamhari Makruf, ini dihadiri juga oleh Tb. Ace Hasan Syadzily (Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI) dan Mahnan Marbawi (Ketua Umum Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia).

Penulis: Herda Maulida
Editor: M. Nida Fadlan