Jakarta, PPIM – Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Den Haag, Din Wahid, menceritakan berbagai program dalam mempromosikan moderasi beragama di Belanda. Penjelasan itu disampaikannya dalam webinar series #ModerasiBeragama dengan tema “Moderasi Beragama dan Diplomasi Kebudayaan” yang diselenggarakan oleh PPIM UIN Jakarta melalui program Convey Indonesia, Jumat (4/9).

“Ada beberapa hal yang dilakukan. Diantaranya mendukung upaya masyarakat Indonesia di Belanda menyiarkan Islam moderat, menampilkan wajah Islam Islam Indonesia yang toleran, dan menegaskan bahwa Indonesia sangat beragama dari berbagai aspek: etnis, bahasa, golongan dan agama.” Ungkap dosen Fakultas Ushuluddin, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, ini.

Program tersebut digiatkan dalam rangka memberikan pemahaman positif tentang Islam. Menurut Din, umat Islam di Belanda seringkali mendapatkan citra negatif. Mereka kerap mencitrakan radikal terhadap Islam dan dianggap tidak mampu beradaptasi dengan Barat.

“Peristiwa serangan terhadap WTC, bom Madrid, bom London, dan kemunculan film Fitna pada 2008 memicu penggambaran bahwa Islam identik dengan kekerasan“, ungkap peneliti PPIM UIN Jakarta ini menjelaskan latar stigmatisasi terhadap umat Islam di Barat.

Untuk itu, Din Wahid menyebut bahwa Islam moderat adalah solusi bagi permasalahan yang kerap kali muncul di Belanda. Pemahaman Islam moderat yang berkembang di Indonesia mengangkat nilai luhur Islam. Nilai-nilai itu sejalan dengan ide European muslim yang mengembangkan pemikiran yang lebih inklusif yang menerima nilai-nilai kemanusiaan yang universal, seperti demokrasi, kesetaraan jender, dan sebagainya.

Webinar Moderasi Beragama ini dilaksanakan setiap Jumat melalui kanal Youtube “PPIM UIN Jakarta” dan “Convey Indonesia”. Selain Din Wahid, diskusi yang dimoderatori oleh Team Leader Convey Indonesia, Jamhari Makruf, ini dihadiri juga oleh Abdurrahman M. Fachir (Wakil Menteri Luar Negeri 2014-2019) dan sejumlah Atase Pendikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia dari berbagai negara seperti Prof. Mustari (KBRI Bangkok, Thailand), dan Dr. Lili Nurlaili (KBRI Manila, Filipina).

Penulis: Andita Putri Ghassani
Editor: Zhella Apriesta