Jakarta, PPIM – Team Leader Convey Indonesia, Jamhari Makruf, mengajak para diplomat untuk mempromosikan gagasan moderasi beragama di kancah internasional. Sebagai bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, implementasi moderasi beragama seharusnya menjadi isu pokok dan tolak ukur dari keberhasilan pembangunan Indonesia terutama dalam konteks global.

“Demokrasi tidak akan berjalan tanpa adanya moderasi sikap dan moderasi beragama”, kata Team Leader Convey Indonesia, Jamhari Makruf. Pernyataan ini disampaikan Jamhari dalam Webinar Series #ModerasiBeragama bertema “Moderasi Beragama dan Diplomasi Kebudayaan” yang diselenggarakan oleh PPIM UIN Jakarta melalui program CONVEY Indonesia, Jumat (4/9).

Menurut Jamhari, Indonesia menjadi negara Islam terbesar yang mempraktekkan demokrasi. Hal ini bisa dilihat dari komposisi penduduk Indonesia yang majemuk, plural, multi etnis, multi agama. Oleh karena itu menurut Jamhari perlu ada “sikap menengah” atau moderat, dan moderasi beragama adalah tepat jika di praktekkan, supaya kita saling menghargai perbedaan yang ada di Indonesia.

Guru Besar Antropologi UIN Jakarta ini sangat mengingatkan citra Islam Indonesia yang digambarkan Majalah Time “The Smiling Islam” sebagai Islam yang ramah dan Islam yang senyum. Waktu itu dunia luar juga melihat Indonesia penuh dengan toleransi, penuh persahabatan dan agama yang berkembang adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin.

“Belakangan karena ada kasus gerakan yang menggunakan kekerasan atau ekstrim, seakan-akan Smiling Islam itu dibajak oleh kelompok yang mengatasnamakan Islam dengan kekerasan, sehingga kita perlu terus mengembangkan dan mempromosikan Islam yang ramah, tersenyum,” ucap peneliti Senior PPIM ini.

Jamhari menyebutkan Kementerian Agama sudah membuat guidelines apa itu moderasi beragama yang didefinisikan sebagai sikap dan perilaku mengamalkan agama yang tidak ekstrim ke kiri maupun ekstrim ke kanan, tidak radikal dan tidak juga ekstrimis, jadi posisinya ditengah-tengah. Tujuannya supaya saling menghargai perbedaan dan juga bisa melihat situasi sosial, lingkungan di mana kita melaksanakan agama.

“Jadi moderasi beragama adalah cara dan sikap kita melaksanakan keagamaan,” ucap Jamhari.

Webinar Moderasi Beragama ini dilaksanakan setiap Jumat melalui kanal Youtube “PPIM UIN Jakarta dan Convey Indonesia”. Pada kesempatan kali ini hadir sebagai narasumber adalah Dr. Abdurrahman M. Fachir (Wakil Menteri Luar Negeri 2014-2019), dan sejumlah Atase Pendikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia dari berbagai negara seperti Prof. Mustari (KBRI Bangkok, Thailand), Dr. Din Wahid (KBRI Den Haag, Belanda), dan Dr. Lili Nurlaili, Med (KBRI Manila, Filipina).

Penulis: Tati Rohayati
Editor: M. Nida Fadlan