Jakarta, PPIM – Sekretaris Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia, Anes Dwi Prasetya, mengajak generasi milenial untuk menyadari dan merawat keragaman Indonesia. “Jika kita ingin besar, kita harus merawat perbedaan ini, mencengkram erat seperti cengkraman burung Garuda, bukan dipecah belah,” ucap Anes.

Ajakan itu disampaikannya dalam Webinar Series #ModerasiBeragama bertema “Milenial Lintas Iman Bicara Moderasi Beragama” yang diselenggarakan oleh PPIM UIN Jakarta melalui program CONVEY Indonesia, Jumat (24/7).

Dalam diskusi dari ini, Anes juga membeberkan konsep moderasi beragama dalam agama Buddha. Menurutnya, moderatisme Buddha tersemai dalam himpunan lembaran peradaban karya Mpu Tantular yang berjudul: Kakawin Sutasoma. Dalam kitab yang menuliskan konsep Bhinneka Tunggal Ika ini, Anes menjelaskan konsep Buddha dan Siwa sebagai kebenaran yang tunggal.

“Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali? Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal. Terpecah belahlah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran,” kata Anes.

Anes juga menjelaskan konsep moderasi beragama dalam Buddha yang disebut dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan atau “Hasta Arya Magga”. Delapan jalan tengah itu terdiri dari pengertian benar; pikiran benar; ucapan benar; perbuatan benar; mata pencaharian benar; daya upaya benar; perhatian benar; konsentrasi benar.

Selain Anes, webinar yang dipimpin Team Leader CONVEY Indonesia Jamhari Makruf ini menghadirkan Milenial Lintas Iman lainnya seperti Biarawati Katolik Fernanda Ambar Pratiwi, Ida Ayu Prasati dari Perwakilan Umat Hindu, Pendeta Kristen Protestan Yerry Pattinasarany, Fikri Fahrul Faiz sebagai Koordinator CONVEY Indonesia, dan Meilan Rahayu Putri sebagai Ketua Pemuda Agama Khonghucu Indonesia Bogor.

Penulis: Syaifa Rodiyah
Editor: M. Nida Fadlan