Jakarta, PPIM – “Perbedaan itu ibarat musik, perpaduan yang sangat merdu,” kata Ketua Pemuda Agama Khonghucu Indonesia Bogor, Meilan Rahayu Putri. Pernyataan ini disampaikan Meilan dalam Webinar Series #ModerasiBeragama bertema “Milenial Lintas Iman Bicara Moderasi Beragama” yang diselenggarakan oleh PPIM UIN Jakarta melalui program Convey Indonesia, Jumat (24/7).

Meilan, yang juga sebagai akuntan yang bergerak dalam bidang kemanusiaan, aktif menyuarakan “Moderasi Beragama” di kalangan pemuda Khonghucu di Cibinong, Bogor. Ia sangat yakin dengan ajaran Khonghucu “Zhong Shu” yang memuat ajaran Satya dan Tepasarira. Sebagai manusia, selain hubungan vertikal kepada Tuhan (Satya), harus juga ada hubungan horizonal yang baik kepada manusia (Tepasarira) sebagaimana termaktub dalam Ting Yong: Bab XII: 3.

Khonghucu dalam kitabnya mengajarkan adanya tenggang rasa, toleransi, menghormati tokoh-tokoh besar seperti Nabi Muhammad SAW, Isa Almasih, Siddhartha Gautama, dan tokoh lainnya. Hal tersebut sudah tercantum dalam kita suci Khonghucu yaitu Genta Rohani /mu duo/ Bok Tok.

“Kami membuat spanduk setiap ada perayaan hari raya agama dan kami sebarkan di media sosial,” ucap meilan.

Meilan dan pemuda Khonghucu mengaplikasikan tepasarira melalui berbagi sarapan gratis, berbagi takjil, peduli banjir, berbagi handsanitizer, dan berbagi masker dalam kegiatan “Galang Toleransi Beragama” di Bogor. Donatur kegiatan sosial ini tidak hanya berasal dari penganut Khonghucu, tapi juga dari kelompok lintas agama lain.

“Di empat penjuru lautan, semua bersaudara (Lun Gi),” ucap Meilan mengakhiri paparannya.

Selain Meilan, webinar yang dipimpin Team Leader Convey Indonesia Jamhari Makruf ini menghadirkan Milenial Lintas Iman lainnya seperti Biarawati Katolik Fernanda Ambar Pratiwi, Ida Ayu Prasati dari Perwakilan Umat Hindu, Pendeta Kristen Protestan Yerry Pattinasarany, Anes Dwi Prasetya dari HIKMAHBUDI, dan Fikri Fahrul Faiz dari CONVEY Indonesia.

Penulis: Tati Rohayati
Editor: M. Nida Fadlan