Jakarta, PPIM – “Ada keluhan siswa SMA tidak bisa baca tulis Al-Qur’an, penguasaan tentang keislaman yang pokok tidak cukup baik, toleransi pada keragaman dan kebangsaan juga sangat minim.” Demikian pernyataan Didin Syafruddin, peneliti PPIM UIN Jakarta, dalam Focus Group Discussion Naskah Sanding Kompetensi Dasar (KD) Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti, Kamis (23/7).

Menurut Didin, jumlah KD Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti (PAIBP) di sekolah sangat banyak, mencapai 684 KD. Sayangnya hal itu belum fokus menyasar pada kemampuan dasar agama Islam, seperti terampil membaca Al-Qurán, hafal bacaan salat, hafal surat-surat pendek, dan hafal doa harian.

Penelitian PPIM (2019) tentang “Penelitian Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Budi Pekerti di Sekolah Kurikulum 2013” menunjukkan proporsi terbesar materi PAI adalah akhlak (42%), disusul akidah (35%), dan ibadah (23%). Materi akhlak yang ditekankan adalah akhlak personal, seperti sopan santun dan jujur (79%), kemudian akhlak sosial seperti tolong menolong (18%), dan terakhir akhlak kewargaan (civic) seperti toleransi (3%).

Proporsi akhlak civic yang sangat minimal ini, menurut Didin jelas kurang mendukung semangat gotong royong dan keberagaman dalam kehidupan kebangsaan. “Untuk itulah naskah sanding diperlukan,” papar Didin.

Naskah Sanding ini disusun atas kerjasama PPIM UIN Jakarta dengan Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI dan atas dukungan dari Knowledge Sector Initiative (KSI). Didin menyebutkan naskah ini membagi aspek PAI menjadi tiga, akidah (iman), ibadah (Islam), dan akhlak (ihsan).

“Materi-materinya berusaha memperkuat aspek civic, ada penekanan dan fokus utama di setiap jenjang, bergradasi baik pada aspek akidah, ibadah, maupun akhlak. Misal SD penekanan kepada ibadah dan BTQ sangat besar,” papar doktor lulusan McGill University ini.

“PAI merupakan mata pelajaran yang penting, menjadi dasar untuk pendidikan yang lainnya, ibaratnya PAI itu jantungnya. Oleh karena itu, evaluasi dan penyempurnaan terhadap PAI dan perangkat lainnya menjadi susuatu yang urgent,” ujar Sunarini saat membuka FGD daring ini.

Diskusi yang dimoderatori oleh Huriyudin ini, dihadiri oleh Rohmat Mulyana, Direktur PAI Kementerian Agama RI, serta beberapa pakar kurikulum PAI seperti Feisal Ghazaly dari Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Abdul Mu’ti, dan Imam Tholhah dari Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), Faried F. Saenong dari Pusat Studi Al-Qurán (PSQ), dan Muhammad Zuhdi (Ahli Pendidikan).

Policy brief hasil penelitian bisa diunduh (di sini)

Penulis: Tati Rohayati
Editor: M. Nida Fadlan