Jakarta, PPIM – Riset Media and Religious Conservatism (MERIT) PPIM UIN Jakarta, menemukan dominasi paham intoleran di media sosial. Hal itu disampaikan Koordinator Riset MERIT, Iim Halimatusa’diyah, dalam dalam Webinar Series #ModerasiBeragama bertema “Media Sosial untuk Moderasi Beragama” yang diselenggarakan oleh PPIM UIN Jakarta melalui program CONVEY Indonesia, Jumat (9/10).

Fakta tersebut ditemukan MERIT dalam melihat perkembangan kontestasi paham keagamaan di dunia maya dari tahun 2009-2019. Walaupun pemahaman keagamaan lain juga banyak mewarnai diskusi agama terutama di platform twitter, pemahaman konservatif paling banyak menguasai perbincangan di ranah maya dengan persentase 67.2%, disusul dengan moderat sebesar 22.2%, liberal (6.1%) dan Islamis (4.5%).

“Paham konservatif dan islamis ini banyak mendengungkan paham intoleran yang tidak menyukai perbedaan dan eksklusif untuk umat Islam serta mengalienasi kelompok di luar muslim,” ungkap Iim.

Agar toleransi bisa mengalahkan paham yang ekslusif tersebut, Iim menyarankan untuk membuka dialog dan pertemuan antar paham keagamaan. Ruang perjumpaan di dunia maya dengan pandangan agama yang berbeda penting untuk membuka peluang adanya moderasi beragama di dunia maya.

“Bertemanlah dengan orang yang berbeda, karena dengan perbedaan itu kita bisa melihat keindahan. Warna kalau putih semua, hitam saja itu tidak asik, tapi kalau kita melihat warna-warna yang berbeda maka hidup akan menjadi lebih indah. Warna-warni memperkaya kita maka jangan alergi pada perbedaan,” pungkasnya.

Webinar Moderasi Beragama ini dilaksanakan setiap Jum’at melalui kanal Youtube “PPIM UIN Jakarta” dan “Convey Indonesia”. Selain Iim, diskusi yang dimoderatori oleh Team Leader Convey Indonesia, Jamhari Makruf, ini menghadirkan narasumber lainnya yaitu, Ismail Fahmi, Ph.D (Pencipta Aplikasi Drone Emprit) dan Abdul Karim Munthe, M.H, (Ketua Sindikasi Media Islam).

Penulis: Aptiani Nur Jannah
Editor: M. Nida Fadlan