Ciputat, PPIM – Gerakan komodifikasi agama di Indonesia kian masif, termasuk meningkatnya
tradisi filantropi atau mendermakan sebagian hartanya untuk kepentingan sosial. Demikian ucap
Amelia Fauzia, Direktur Social Trust Fund UIN Jakarta dalam sesi PPIM Seminar Seri Ke-36 di
Ciputat, Tangerang Selatan (22/4). Amelia mengangkat sebuah tema diskusi yang berjudul
“Pious Neoliberalism dalam Praktik Wakaf Produktif di Indonesia: Studi Kasus Pemakaman
Non-Konvensional.”

“Wakaf produktif sudah lama menjadi wacana dalam tradisi filantropi Islam di Indonesia.
Namun perkembangannya saat ini, wakaf produktif tidak hanya terfokus pada mendermakan
hartanya untuk dijadikan lembaga sosial keagamaan seperti masjid atau lembaga pendidikan
melainkan juga dalam bentuk pemakaman muslim”, demikian ungkap Dosen Fakultas Adab dan
Humaniora UIN Jakarta ini.

Amelia melihat perkembangan tersebut berdasarkan risetnya selama menjadi fellow Asia
Research Institute (ARI) di National University of Singapore. Ia menjadikan Firdaus Memorial
Park di Bandung dan Al-Azhar Memorial Garden di Karawang sebagai objek penelitiannya.
Dengan menerapkan pendekatan Pious Neoliberalisme ala Mona Atia, Amelia melihat bahwa
modernisasi, ekonomi neoliberal, dan Islamisasi kehidupan wilayah perkotaan telah mendorong
meningkatnya praktik wakaf produktif khususnya dalam konteks berdirinya taman pemakaman
muslim berbasis wakaf.

Para pengelola pemakaman muslim tersebut mensosialisasikan aktivitasnya secara terbuka.
Mereka menyediakan lahan seluas 25-125 hektar dengan kapasitas 20.000-29.000 kavling yang
memuat lebih dari 60.000 jenazah. Penyediaan lahan tersebut berasal dari sumbangan dan
tabungan wakaf para donatur yang kemudian menjadi wakif (pewakaf). Besarnya sumbangan
terendah mulai dari Rp. 15.000.000 untuk di Firdaus Memorial Park dan RP. 21.000.000 di Al-
Azhar Memorial Garden. Selain digunakan untuk membebaskan lahan, dana tersebut digunakan
untuk operasional dan peningkatan produktivitas lahan di sekitar area pemakaman.
“Ini adalah trend baru. Fenomena ini menunjukkan peningkatan partisipasi masyarakat kelas
menengah muslim yang tinggal di wilayah perkotaan. Mereka melihat ketersediaan area
pemakaman di perkotaan semakin terbatas. Untuk itu, mereka memilih berderma wakaf
pemakaman dengan tujuan untuk memberikan fasilitas lahan pemakaman untuk masyarakat
miskin kota”, papar Amelia.

Direktur Eksekutif PPIM UIN Jakarta, Ismatu Ropi, melihat bahwa fenomena komodifikasi yang
dipaparkan oleh Amelia merupakan hal yang baru dan sangat menarik. Perkembangan
perekonomian Indonesia sama sekali tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap
meningkatnya tradisi komodifikasi Islam terutama dalam konteks filantropi.
“Isu yang disampaikan oleh Amelia adalah hal yang sangat baru. Ini menjadi tantangan serius
bagi para peneliti untuk terus mengembangkan pengkajian terhadap tradisi keislaman masyarakat
Indonesia sekaligus menciptakan komunitas akademik di kampus”, ungkap Ismatu.
PPIM Seminar merupakan diskusi dwi bulanan yang berupaya untuk menciptakan iklim tradisi
akademik di lingkungan PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang mengundang para pakar
untuk mendiskusikan temuan-temuan terbarunya dalam kajian keislaman Indonesia. Selain

PPIM, diskusi ini juga didukung oleh Studia Islamika, sebuah jurnal ilmiah terkemuka dalam
kajian keislaman di Indonesia dan Asia Tenggara.[Lis]

Share this:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *