Selamat Datang di Website Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat UIN Jakarta

Oman: Raibnya Sang Naskah

Berita kecil di harian Kompas, 18 Januari 2016, tentang raibnya naskah kuno Jawa-Tiongkok koleksi Museum Reksopustoko Mangkunegaran Solo, Jawa Tengah, nyaris luput dari perhatian publik.

Maklumlah, hiruk-pikuk di jagat politik enggan beranjak dari media, dan kasus kopi sianida kelihatannya lebih menarik disimak. Untunglah, teman-teman aktivis Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) masih memiliki kepedulian dan mengingatkan saya untuk menulis, agar persoalan pentingnya artefak budaya ini juga turut mengisi ruang-ruang fikiran publik, dan menjadi memori kolektif bangsa kita.

Selengkapnya

Oman: Kajian Manuskrip Butuh Ragam Perspektif

Jakarta, Paramadina‘Kontekstualisasi’ adalah kata kunci agar sumber-sumber primer kajian Islam Indonesia yang berupa naskah-naskah tulisan tangan (manuscripts) dapat memberikan kontribusi terhadap arah studi Islam Indonesia. Demikian salah satu butir penting yang disampaikan oleh Prof. Dr. Oman Fathurahman, M.Hum dalam Seminar tentang “Arah Studi Islam di Indonesia: Tantangan dan Prospek”, yang diselenggarakan oleh Universitas Paramadina dalam rangka pembukaan Program Magister Ilmu Agama Islam.

Selengkapnya

Jawi dan Pegon

Saiful Umam

Bagi yang masih menolak atau ragu akan keberadaan Islam Nusantara, ada baiknya membaca akitab-kitab Jawi dan Pegon. Oleh para ilmuwan, kedua istilah tersebut dibedakan. Sementara Jawi adalah bahasa melayu dalam aksara Arab, Pegon adalah Jawa (dan juga Sunda). Dengan demikian, kitab Jawi adalah kitab berbahasa Melayu dan ditulis dengan aksara Arab, sementara yang berbahasa Jawa disebut kitab Pegon. Orang yang hanya paham bahasa Arab tapi tidak tahu bahasa Melayu atau Jawa, dijamin tidak bisa membaca kitab-kitab Jawi atau Pegon. Karya-karya ulama Nusantara yang terekam dalam kitab-kitab Jawi atau Pegon sangat banyak jumlahnya dan itu merupakan bagian dari kekayaan khas Islam Nusantara.

Selengkapnya

Belajar dari Birmingham

Oman Fathurahman

Uji radiokarbon atas dua lembar perkamen naskah M 1572a berisi penggalan teks Alquran koleksi Perpustakaan the University of Birmingham telah mengentak dunia akademik Islam internasional atas kesimpulannya bahwa naskah berbahan kulit kambing tersebut berasal antara 568 hingga 645 M, tak lama setelah Nabi Muhammad wafat (632 M).

‘Klaim’ usia naskah Alquran Birmingham itu memang sulit dibantah karena dihasilkan dari sebuah langkah saintifik yang tingkat akurasinya 95,4 persen. Ini berbeda dengan klaim-klaim yang sering berseliweran di kalangan masyarakat umum tentang kepemilikan sebuah naskah yang konon berusia ‘ratusan’ tahun tanpa riset akademik untuk menguji kebenarannya.

Selengkapnya

Sabda Raja: Antara Wahyu Leluhur dan Tradisi Leluhur

Versi ringkas artikel ini terbit di Koran Republika, Selasa 12 Mei 2015.

Untuk pertama kalinya sejak naik tahta 7 Maret 1989 silam, pada Kamis (30/4) Sultan Hamengkubuwono X mengeluarkan Sabda Raja yang berisi lima butir titah: penggantian kata Buwono menjadi Bawono, penanggalan gelar Khalifatullah, penggantian kata Sedasa menjadi Sepuluh’ mengubah perjanjian pendiri Mataram Ki Ageng Giring dengan Ki Ageng Pemanahan, dan menyempurnakan keris Kanjeng Kyai Ageng Kopek dengan keris Kanjeng Kyai Ageng Joko Piturun.

Berdasar tradisi Kraton, sabda Raja tentu saja adalah sabda pandita ratu yang tiada lain harus dipatuhi, bukan untuk diperdebatkan. Apalagi, Sultan Hamengkub[a]wono X menegaskan bahwa Sabda Raja ini tak lain adalah ‘wahyu leluhur’ melalui dirinya. Akan tetapi, dari perspektif sejarah kesultanan di Nusantara, penanggalan gelar khalifatullah, khususnya, sejatinya bukan persoalan sederhana.

Selengkapnya