Selamat Datang di Website Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat UIN Jakarta

Rektor Lantik Ali Munhanif sebagai Ketua LP2M UIN Jakarta

Ciputat, UIN Jakarta – Rabu, 12 Januari 2018, menjadi hari yang membanggakan bagi PPIM UIN Jakarta. Pasalnya, pada hari itu Prof. Dr. Dede Rosyada selaku Rektor UIN Jakarta melantik Peneliti sekaligus Dewan Penasihat PPIM, Ali Munhanif, Ph.D, sebagai Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M).Selengkapnya

Oman Fathurahman: Pedagang Asongan Jadi Staf Ahli Menteri Agama

 

Jakarta, PPIM – Jumat (22/12/2017) adalah hari yang membanggakan bagi keluarga besar Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pasalnya, pada hari itu, Peneliti Senior PPIM, Prof. Dr. Oman Fathurahman, dilantik menjadi Staf Ahli Menteri Agama Bidang Manajemen Komunikasi dan Informasi pada Kementerian Agama RI.

Bertempat di Auditorium HM. Rasjidi di Gedung Kementerian Agama, Oman dilantik oleh Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin, bersama dengan 29 pejabat lainnya. Dalam sambutannya, Menteri Agama menyampaikan bahwa pelantikan ini dilakukan dalam rangka melayani kehidupan umat beragama. Untuk itu, Menteri Lukman menekankan agar para pejabat yang dilantik bisa memahami makna jabatan yang sesungguhnya.

“Pahami dengan baik apa jabatan itu. Jaga kepercayaan negara dan kepercayaan yang diberikan Tuhan”, demikian ungkap Menag.

Dihubungi usai pelantikan, Ayah bagi Fadli, Alif, dan Jiddane ini mengungkapkan harapannya agar bisa mengemban amanah tersebut dengan sebaik-baiknya. Guru Besar Filologi Islam ini berjanji akan tetap istiqamah untuk selalu berada di jalan yang benar. Selain itu, ia juga tidak akan melepaskan aktivitas akademiknya sebagai pengkaji dan pelestari manuskrip-manuskrip Nusantara.

“Terima kasih atas ucapan dan doa-doanya. Saya berhutang budi kepada Kampus UIN Syarif Hidayatullah yang telah membesarkan saya, khususnya PPIM UIN Jakarta tempat sehari-hari saya meneliti. Tentu capaian ini juga tak lepas dari dukungan istri dan anak-anak saya yang tulus. Mohon dukungannya agar saya bisa menjalankan amanah ini dengan baik”, ungkap suami dari Husnayah Alhudayah ini.

Direktur Eksekutif PPIM, Saiful Umam, Ph.D, pun mengungkapkan kebanggaannya. Saiful mengatakan bahwa Oman adalah aset yang sangat berharga bagi PPIM khususnya, dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta umumnya. Apalagi ia sekarang dipercaya sebagai Managing Editor jurnal bereputasi internasional Studia Islamika yang diterbitkan oleh PPIM. Tentu saja menjadi kebanggaan yang tidak terkira apabila asetnya dapat memberikan kontribusi positif bagi pembangunan bangsa dan Negara lebih luas.

“Tentu saja ini adalah kebanggaan untuk kami di PPIM. Kami berpesan agar Oman bisa mendampingi Pak Menteri dengan baik sehingga dapat meningkatkan level kinerja Kementerian Agama”,  harap Saiful.

 

Dari Pedagang Asongan Jadi Staf Ahli Menteri

Menjadi Staf Ahli Menteri jelas bukan sesuatu yang berani Oman impikan. Sebagai ‘orang kampung’, dulu ia hanya memiliki cita-cita sederhana yang waktu itu menjadi tantangan terberat bagi dirinya, yaitu menjadi ‘mahasiswa’.

Oman dilahirkan di Kuningan, Jawa Barat, pada 8 Agustus 1969 dalam keluarga santri religius yang penuh dengan keterbatasan dan kesederhanaan. Ayahnya pernah menjadi katib Syuriah NU Kabupaten Kuningan, dan ibunya seorang guru agama. Meskipun kedua orang tuanya adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS), namun penghasilannya tidaklah mencukupi untuk menafkahi anak-anaknya yang berjumlah sembilan. Alhasil, kedua orang tua Oman setengah bersumpah akan menyekolahkan anak-anaknya hanya sampai jenjang SMA.

‘Encep’, demikian panggilan kecil Oman, yang memiliki semangat belajar yang sangat luar biasa ini tidak merasa puas dengan keputusan kedua orangtuanya. Pada 1987, usai menamatkan pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Cipasung di Tasikmalaya, Jawa Barat, Oman dinyatakan diterima kuliah di IAIN (sekarang UIN) Sunan Gunung Djati Bandung melalui jalur PMDK. Namun, KH. Moh. Harun dan Ny. Sukesih, orang tua Oman, tidak mampu membiayai perkuliahannya.

Tidak jadi kuliah, Oman malah dikirim oleh orang tuanya ke Pesantren Baitul Hikmah Haurkuning Salopa di Tasikmalaya. Satu tahun di sana untuk belajar ilmu nahwu shorof, menghapal Ajurumiah hingga Alfiyah, Oman pulang ke Kuningan menemui orang tuanya untuk meminta restu kuliah. Dengan alasan yang sama, izin pun ditolak dan kembali Oman dikirim lagi menjadi santri di Pesantren Miftahul Huda Manonjaya, Tasikmalaya.

Meski berat hati menerima keputusan kedua orang tuanya, Oman tidak pernah setengah hati menjalani keputusan itu. Selama masa-masa nyantri itu, Oman tetap berprestasi dan menjadi kebanggaan segenap keluarga besar pesantren. Di Haurkuning, Oman menjadi supir pribadi motor K.H. Saefuddin Zuhri dan mendampingi kemanapun Kiai pergi; di Manonjaya, Oman juga menjadi juara pertama lomba pidato se-Pesantren.

Meski bergelimang prestasi selama di pesantren, harapan untuk menjadi mahasiswa tidak pernah hilang dari pikirannya. Pada akhir 1988, Oman pun memilih ‘kabur’ ke Jakarta.

Atas bantuan sepupunya di Kebayoran Lama, Oman diizinkan untuk menumpang hidup selama di Jakarta. Untuk mengumpulkan biaya daftar kuliah, Oman nekad menjajakan rokok dan permen sebagai pedagang asongan. Setiap hari di bawah terik matahari ia berjalan kaki dari Kebayoran Lama menuju Tanah Abang hingga Djakarta Theater di kawasan Sarinah. Dengan penghasilan bersih hanya Rp. 1.000-1.500 perhari, Oman meratapi nasibnya dan hampir merasa putus asa bahwa hapalan Jurumiah dan Alfiyahnya tidak berguna sama sekali. Angan-angannya untuk kuliah pun rasanya tidak akan pernah tercapai.

Harapannya kembali muncul saat ia mendapati iklan Koran Penerbit Kalam Mulia yang mencari Editor Bahasa Arab. Dari sini, Oman mulai mensyukuri keputusan orang tuanya saat ‘membuangnya’ ke pesantren untuk belajar bahasa Arab. Dengan percaya diri, Oman melamar dan dinyatakan diterima dengan gaji Rp. 80.000. Matanya kembali berbinar-binar mengharap bisa menabung untuk biaya kuliah.

Tahun 1990 adalah kesempatan terakhir Oman untuk kuliah sebab setelah itu ijazah MAN-nya akan kadaluarsa. Di pertengahan tahun itu, ia mendaftarkan diri untuk kuliah dan diterima di Jurusan Sastra Arab, IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Oman pun resmi berjaket mahasiswa.

Tempaan hidup itu ternyata membekas di hati dan pikiran Oman. Selama kuliah, ia terus mengasah kemampuan akademiknya sembari berjualan jam tangan, batik, dan terakhir kacamata, untuk membayar kuliah. Selain sebagai pedagang, Oman juga merupakan aktivis mahasiswa. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Komisariat Fakultas Adab Cabang Ciputat (1992-1993) dan Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Adab (1994). Sampai pada akhirnya, pada tahun 1994, jenjang kuliah yang selama ini diidam-idamkan itu usai dilaksanakan. Resmi sudah Oman menjadi Sarjana Agama (S.Ag) di bidang Sastra Arab dengan predikat cumlaude.

Sejak saat itu, nasib Oman terus membaik. Setelah lulus, Prof. Dr. Nabilah Lubis yang kala itu menjadi Dekan Fakultas Adab meminta bantuan Oman untuk menyunting draft buku hasil disertasinya yang membahas Zubdatul Asrar, sebuah naskah kuno berbahasa Arab dengan terjemah Jawa Pegon karangan Syekh Yusuf Makassar. Ia memperbaiki bacaan-bacaan dan keselarasan teks Arab dengan terjemah Pegon yang tertulis dalam naskah tersebut sebelum diterbitkan. Inilah awal mula perkenalan Oman dengan ilmu filologi. Hasil suntingan Oman pun diketahui oleh Henri Chambert-Loir, seorang filolog asal Prancis yang kemudian jatuh hati pada kemampuan bahasa Arab dan bahasa daerah Oman, serta menawarinya untuk magang di EFEO, lembaga penelitian Prancis di Jakarta yang dipimpinnya.

Pengalaman-pengalaman menggeluti teks-teks dan masa-masa sulitnya saat di pesantren adalah modal penting saat Oman memutuskan melanjutkan kuliahnya pada jenjang S2 (1998) dan S3 (2003) di Program Studi Ilmu Susastra, Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Di saat teman-teman seperjuangannya menggeluti Islamic Studies yang saat itu sedang ngetrend, Oman pun memilih berbeda dengan memilih studi filologi sebagai yang sepi peminat. Ia pun memperoleh beasiswa dari Yayasan Pernaskahan Nusantara (Yanassa).

Ketekunannya dalam membaca sekaligus melestarikan naskah-naskah kuno Nusantara telah membawa Oman meraih gelar Guru Besar filologi Islam pertama di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI). Ia meraih gelar itu pada Maret 2014 dari kampus almamaternya, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Baginya, gelar itu merupakan buah dari konsistensinya dalam meneliti dan mempublikasikan hasil-hasil risetnya, khususnya ketika ia berkesempatan menjadi peneliti tamu (visiting fellow) di sejumlah universitas ternama di Jerman, Oxford, Tokyo, Kyoto, dan Osaka.

Pengalaman-pengalaman hidup itu sedemikian mengalir menghinggapi dirinya dengan nuansa dan dinamika yang berbeda-beda. Oman, santri pesantren yang hanya memiliki cita-cita sederhana menjadi mahasiswa pun menjelma menjadi professor di bidang ilmu yang sangat langka, filologi. Oman yang dulu pernah menjadi pedagang asongan dan ‘pelayan’ kiai pun kini telah dilantik menjadi Staf Ahli, pendamping, Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin. “Bagi saya, jabatan ini adalah amanah sekaligus ujian dari Allah Swt, untuk saya dan keluarga. Semua ini saya peroleh karena adanya restu dan bekal pendidikan agama dari kedua orang tua, serta berkah dari para kyai dan guru-guru di pesantren”, pungkas Oman.

Selamat bertugas, Pak Oman! [MNF]

DREAMSEA: MERAWAT KEBERAGAMAN BUDAYA DI ASIA TENGGARA MELALUI DIGITALISASI MANUSKRIP

“Digitising Manuscripts – Safeguarding Cultural Diversity“

Sebuah Program yang dimaksudkan untuk melestarikan keragaman kekayaan manuskrip di Asia Tenggara akan segera diluncurkan. Program yang akan memprioritaskan digitalisasi manuskrip yang terancam punah tersebut diberi nama “Digital Repository of Endangered and Affected Manuscripts in Southeast Asia”, disingkat DREAMSEA.

Selengkapnya

PPIM Prakarsai Gerakan Melawan Ekstrismisme Kekerasan di Asia Tenggara

Ciputat, PPIM- Meningkatnya kasus-kasus ekstrimisme kekerasan berbasis identitas agama di negara-negara Asia Tenggara menjadi salah satu masalah krusial bagi stabilitas kawasan ini. Konflik di Marawi di Philippina, Rohingya di Myanmar, serta beberapa kasus kekerasan terhadap minoritas di Indonesia dan beberapa wilayah lain menjadi bukti nyata bahwa masalah ini menjadi ancaman bagi stabilitas kawasan dikenal sangat plural ini.

Dalam merespon persoalan tersebut, PPIM UIN Jakarta bekerjasama dengan UNDP Indonesia melalui program CONVEY mengadakan regional workshop dengan tajuk “Violent Extremism and Religious Education in Southeast Asia”, yang berlangsung pada 11-13 Desember 2017 di Jakarta. Kegiatan tersebut dihadiri oleh sejumlah perwakilan dari negara-negara di Asia Tenggara yang menggeluti isu ini. Di luar ASEAN, hadir pula beberapa peserta dari negara lain seperti Maladewa, Afghanistan, Jepang, Australia dan Amerika Serikat.

kegiatan ini bertujuan mengumpulkan dan memfasilitasi para pembuat kebijakan, praktisi, dan akademisi untuk saling berbagi best practices dan lessons learned terkait bagaimana pengalaman masing-masing kelompok dalam mengkonter ektrimisme kekerasan di negara masing-masing, sekaligus mengidentifikasi masalah dan tantangan yang sedang dihadapi.

Topik utama yang diangkat dalam workshop tersebut adalah mengeksplorasi peran pendidikan agama dalam membuat masyarakat yang terbuka dan toleran. Pendidikan agama dinilai menjadi media yang strategis dalam menciptakan budaya damai dan mencegah ekstrimisme kekerasan.

Dalam pembukaan workshop, Saiful Umam, Direktur Eksekutif PPIM, mengatakan “di pesantren dan madrasah anak-anak diajarkan Islam, bahwa Islam tidak pernah menagajarkan kekerasan. Di sana juga diajarkan untuk menerima perbedaan. Ini menjadi alasan penting untuk meningkatkan peran pendidikan agama melawan violent ekstremisme”.

Topik di atas dibahas dalam dua sesi diskusi plennary dengan tema Why Does Religious Education for Preventing Violent Extremism Matter? Pada hari pertama dan Religious Education and Violent Extremism: Southeast Asia Context pada hari berikutnya. Beberapa yang diundang sebagai pembahas antara lain Biksu Uttama Sara dari Phaung Daw Oo Monastic Education High School dan Thet Swe Win dari Center for Youth and Social Harmony dari Myanmar; Ustadz Esmael Ebrahim dari Philippine Council for Islam and Democracy dan Arnold P. Alamon, Executive Director of Mindanao Interfaith Institute on Lumad Studies dari Philippina; serta Prof. Dr. Azyumardi Azra dan Prof. Dr. Jamhari Makruf dari PPIM UIN Jakarta mewakili Indonesia.

Hadir sebagai keynote speaker Prof. Dr. Kamaruddin Amin, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI. Dia menjelaskan bahwa Indonesia adalah negara yang plural dari segi agama, bahasa, budaya, dan etnis. Untuk itu Indonesia sangat membutuhkan media untuk menjaga dan mengelola keberagamaan tersebut, dan peran pendidikan agama penting untuk itu. Lebih jauh Kamaruddin menyatakan bahwa keberhasilan Indonesia menjadi negara demokrasi Muslim terbesar di dunia serta memiliki kondisi social politik yang relatif stabil itu tidak bisa dilepaskan dari kontribusi pendidikan agama, khususnya melalui presantren dan madrasah.

“Artikulasi keberagamaan yang sangat terkait dengan pendidikan agama yang moderat dan mempromosikaan perdamaian, menjadi faktor penting dalam membentuk stabilitas politik di Indonesia. Kondisi ini berbeda dengan yang terjadi di negara-negara Muslim di Timur Tengah dan Asia Selatan di mana pendidikan agama yang diajarkan di institusi pendidikan dalam banyak aspek berkontribusi terhadap intoleransi dan extrimisme,” Ujar Kamaruddin.

Salah satu pembicara, Prof. Dr. Azyumardi Azra, menyatakan bahwa strategi melawan ektrimisme kekerasan harus dilakukan secara komprehensif, dan tidak bisa dilakukan dengan cara yang ad-hoc. Menurutnya, pemberdayaan organisasi Islam moderat, seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan organisasi mainstream lainnya, menjadi salah satu strategi yang sangat penting.

Namun saat ini, menurut Azyumardi ada infiltrasi gagasan radikal, salafi dan wahabi ke lembaga pendidikan Islam. Untuk itu dia merekomendasikan agar pemerintah melakukan training kepada para guru untuk memastikan wawasan kebangsaan mereka sesuai dengan konteks keindonesiaan. Kondisi ini umumnya juga sedang dialami di komunitas-komunitas Muslim di negara-negara Asia Tenggara. Meningkatkan gerakan transnasional dan perkembangan teknologi menjadi faktor penting pendorong masalah ini.

“Sejumlah riset yang dilakukan PPIM telah mengkonfirmasi tren radikalisme dan intoleransi yang sedang berlangsung di dalam institusi pendidikan. Teks pendidikan agama dan guru agama telah menyediakan kesempatan dalam meningkatkan tindakan intoleransi dan ektrimisme kekerasan bagi kalangan generasi muda” tambah Azyumardi.

Workshop ini juga membahas isu-isu penting lainnya terkait melawan ekstrimisme kekerasan di Asia Tenggara. Isu-isu tersebut dibahas dalam sesi parallel diskusi dengan tema-tema specific meliputi: kebijakan pemerintah, peran organisasi masyarakat sipil berbasis agama, kurikulum pendidikan agama, social media, pendidikan literasi agama, dan peran keluarga. Difasilitasi oleh para ahli di bidang sosial keagamaan seperti Ali Munhanif, Jajang Jahroni, Didin Syafruddin, dan Dadi Darmadi, sesi ini menjadi wadah tukar pengalaman dan gagasan antar para perwakilan negara-negara Asia Tenggara dan negara lain dalam usaha mengkonter ektrismisme kekerasan di negara mereka masing-masing.

Diakhir kegiatan, para perserta bersepakat mendeklrasikan sebuah piagam yang berjudul” JAKARTA DECLARATION ON VIOLENT EXTREMISM & RELIGIOUS EDUCATION”. Deklarasi itu berisi sepuluh butir aksi yang dibutuhkan dalam mengkonter ekstrimisme keagamaan di Asia Tenggara. Poin-poin tersebut di antaranya: menolak segala bentuk kekerasan; mendukung pemerintah meregulasi pendidikan agama yang mendukung toleransi dan perdamaian; mengintensifkan inter- dan intra-faith dialog; memperkuat kapasitas guru agama dan orang tua dalam melawan ektrimisme kekerasan; mainstreaming kesetaraan gender dalam pendidikan agama; dan memberdayakan pemuda sebagai garda terdepan dalam mengkonter ekstrimisme kekerasan.

Pada sesi penutupan, Prof. Jamhari Makruf selaku Dewan Penasehat PPIM UIN Jakarta berpesan “jaringan yang sudah kuat antara kita dapat menguatkan perjuangan dalam melawan paham ekstrimisme. Sepuluh poin dalam deklarasi ini merupakan output yang bagus dari konferensi ini. Mari gaungkan poin-poin deklarasi ini untuk mecegah dan melawan radikalisasi di era globalisasi saat ini di negara kita masing-masing”. [RGA]

DOWNLOAD JAKARTA DECLARATION

PPIM Selenggarakan Regional Workshop untuk Cegah Ekstrimisme di Asia Tenggara

Ciputat, PPIM – Selain persoalan politik dan ekonomi, persoalan agama kerapkali dilihat secara monolitik sebagai salah satu hal yang menimbulkan aktivitas kekerasan di mana-mana. Padahal, sejatinya, agama tidak semestinya dilihat begitu. Dalam sejarahnya, banyak juga unsur-unsur dalam agama yang bahkan menjadi bibit-bibit perdamaian di bumi ini. Oleh karena itu, seyogyanya, daripada melihat agama sebagai sumber masalah, akan lebih baik bila melihat agama sebagai salah satu kunci perdamaian.

Dalam kaitannya dengan hal tersebut, sebuah lokakarya bernama “Regional Workshop: Violent Extremism & Religious Education in Southeast Asia” untuk melihat bagaimana pentingnya perang agama, lebih khusus pendidikan agama, dalam membendung paham-paham ekstrimisme berbasis kekerasan yang tengah mengemuka. Lokakarya ini dihelat di Mandarin Oriental Hotel, Jakarta pada 11-13 Desember 2017.

Ismatu Ropi, selaku penanggung jawab kegiatan, menerangkan bahwa lokakarya ini dilakukan untuk melihat pentingnya peran pendidikan agama dalam menanggulangi paham ekstrimisme berbasis kekerasan. Selan itu, lokakarya juga dilakukan agar para pembuat kebijakan, praktisi, dan akademisi dari seluruh penjuru Asia Tenggara dapat berbagi pengalaman mengenai penanggulangan paham esktrimisme berbasis kekerasan dengan pintu masuk pendidikan agama.

“output dari lokakarya ini adalah sebuah document tentang hubungan antara pendidikan agama dengan pencegahan paham violent-extremism yang akan dijadikan, salah satunya, sebagai basis pembuatan policy papers,” sambung Direktur Riset Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta tersebut.

Acara ini diselenggarakan di bawah naungan Project Management Unit dalam proyek bernama “Enhancing the Role of Religious Education in Countering/Preventing Violent Extremism” (CONVEY), sebuah proyek yang dilakukan oleh PPIM UIN Jakarta. [EAG]