Selamat Datang di Website Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat UIN Jakarta

Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) & Wacana Perempuan dalam Ruang Intelektual

  • Writer: Admin
  • Category: Artikel
  • Published: May 15, 2017
  • Hits: 336

Para Pembicara Seminar Internasional KUPI

Pada akhir April 2017, para tokoh dan aktifis perempuan terkemuka berkumpul untuk menghadiri Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Kebon Jambu al-Islamy, Babakan Ciwaringin, Cirebon. Kongres yang diinisiasi oleh tiga lembaga, yakni Alimat, Rahima dan Fahmina (ARAFAH) ini bertujuan untuk melegitimasi dan mengafirmasi kerja-kerja perempuan ulama di Indonesia, terutama bagi mereka yang sudah memiliki kesadaran keberpihakan untuk keadilan relasi laki-laki dan perempuan. Selain itu, KUPI juga melihat bahwa dalam beberapa aspek, keberadaan perempuan kerap kali menjadi objek kekerasan laki-laki, dan perannya seakan luput dari perhatian pemerintah.

Kongres yang dilaksanakan selama tiga hari pada 25-27 April ini, mengangkat tema “Peran Ulama Perempuan dalam Meneguhkan Nilai Keislaman, Kebangsaan dan Kemanusiaan”. Dipilihnya Cirebon sebagai tempat kegiatan ini karena dinilai sangat relevan dari segi faktor sosio-historis keislaman dan kebangsaan, terlebih pesantren Kebon Jambu yang berada di Cirebon adalah representasi dari kepemimpinan seorang perempuan dalam institusi pendidikan keislaman yaitu Ibu Nyai Hj. Masriyah Amva yang aktif dalam mengkaji tradisi keislaman, terutama dalam pemberdayaan dan peran perempuan.

Selain itu, KUPI yang merupakan kongres pertama di dunia yang menyuarakan tentang perempuan, mendapatkan respon baik tidak hanya datang dari negara Indonesia sebagai tuan rumah, KUPI juga pun mendapat respon baik dari 15 negara tetangga lainnya yaitu Afghanistan, Amerika Serikat, Australia, Bangladesh, Belanda, Filipina, India, Malaysia, Nigeria, Kanada, Kenya, Pakistan, Saudi Arabia, Singapura, dan Thailand.

Dra.  Hj. Badriyah Fayumi, selalu ketua panitia KUPI, dalam sambutannya menyebutkan bahwa peserta yang mendaftar KUPI berjumlah 1,270 orang, tapi hanya 575 orang yang diterima. Ke 575 orang tersebut merupakan akademisi dan perwakilan dari berbagai ormas dan lembaga, baik dari pesantren, madrasah dan perguruan tinggi negeri dan swasta dari dalam maupun luar negeri. Kehadiran peserta dari berbagai latar belakang tersebut merupakan indikasi akan keberhasilan KUPI.

Badriyah berharap KUPI dapat diselenggarakan oleh banyak pihak yang sama-sama memiliki perhatian dan ikhtiar dalam peneguhan eksistensi, dedikasi dan kontribusi ulama perempuan Indonesia untuk keislaman, kebangsaaan dan kemanusiaan. Ia juga berharap KUPI ini menjadi ajang silaturrahmi, saling belajar dan berbagi pengalaman antara ulama perempuan dengan pakar dan praktisi yang terkait langsung dengan kajian keislaman, kebangsaan dankemanusiaan.Terakhir, hasil akhir dari kongres ini diharapkan dapat menghasilkan beberapa rekomendasi berupa ikrar keulamaan perempuan; hasil musyawarah keagamaan terkait kekerasan seksual; poligami; usia perkawinan perempuanan kerusakan alam dalam konteks keadilan sosial; dan sejumlah rekomendasi yang terkait dengan perempuan.

Wacana KUPI

Lantas, pertanyaan selanjutnya adalah, apa agenda selanjutnya yang akan dilakukan oleh KUPI? Apakah KUPI hanya sebatas forum ajang pertemuan untuk membahas terkait isu perempuan saja? Apa wacana KUPI kedepan?

Di akhir kegiatan KUPI yang ditutup oleh Menteri Agama RI, H. Lukman Saifuddin dan Ibu wakil ketua DPD Indonesia, Gusti Kanjeng Ratu Hemas menghasilkan beberapa rekomendasi terhadap sejumlah masalah diantaranya menyangkut soal pernikahan, kesetaraan hingga isu lingkungan. Dua rekomendasi KUPI yang direspon ole Menteri Agama yaitu:

  1. Regulasi UU No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, KUPI menginginkan adanya perubahan dalam batasan usia maksimal pernikahan bagi perempuan dari 16 tahun menjadi 18 tahun. Kementerian Agama akan melakukan koordinasi langsung dengan Menteri pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak untuk melakukan reviw UU tersebut.
  2. Kementerian Agama siap untuk memperbanyak Ma’had Ali yang khusus untuk mencetak ulama perempuan Indonesia.

Beberapa rekomendasi yang diusung oleh KUPI, tentunya menjadi nilai plus bagi perempuan, dengan KUPI perempuan diajak untuk tetap berkontribusi dalam segala aspek. Dalam kajian intelektual, terselenggaranya kegiatan KUPI di Cirebon, merupakan salah satu langkah baik bagi perempuan untuk terus menunjukkan eksistensinya. Sebagai masukan, Selain di ranah publik, perempuan juga memiliki satu celah untuk mengisi kekosongan ruang dalam ruang-ruang kajian intelektual dengan memberikan sumbangsih pada dunia akademik. Perempuan juga akan lebih baik jika digerakkan untuk menghasilkan karya dalam bentuk tertulis, baik buku, artikel, maupun karya ilmiah lainnya. Dengan begitu, eksistensi perempuan akan tetap ada dan semakin diakui. (TR)

Share this:

Studia Islamika

Agenda PPIM