Selamat Datang di Website Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat UIN Jakarta

Konservatisme Menguat di Kampus, Dosen Perempuan semakin Terpinggirkan?

  • Writer: Admin
  • Category: Artikel
  • Published: June 9, 2017
  • Hits: 240

Kesenjangan gender semakin jelas terlihat saat Pranova Herdiyanto, menampilkan data kuantitatif dari Kemenristekdikti, data tersebut memperkuat adanya kesenjangan gender di pendidikan tinggi. Dilihat dari perbandingan jenis kelamin Dosen Kemristekdikti misalnya, selama tiga tahun terakhir 2014-2017, menurut Pranova didominasi oleh laki-laki yaitu 56.56%, sedangkan perempuan 43.44%. Kemudian, dilihat dari sebaran dosen berdasarkan jabatan fungsional di perguruan tinggi, laki-laki kembali unggul secara kuantitas dibanding perempuan, mulai dari non-jabatan, asisten ahli, lektor, lektor kepala dan profesor. Temuan-temuan diatas setidaknya terus konsisten selama tiga tahun belakangan ini, tambah Pranova.

Lantas, faktor apa sebenarnya yang memengaruhi kesenjangan gender di perguruan tinggi? Siti Ruhaini Dzuhayatin menjawab secara rinci. Ada empat faktor menurutnya yang turut memngaruhi fenomena tersebut yaitu personal, struktural, institusional dan kultural. Secara personal, perempuan umumnya tidak melihat karir sebagai prioritas utama, apalagi jika suami berpenghasilan tinggi, dan ada anggapan politik dan kepemimpinan bahwa dunia laki-laki penuh persaingan sehingga perempuan enggan terlibat. Secara struktural, kesetaraan gender tidak menjadi bagian dari assessment universitas. Faktor kultural, menguatnya konservatisme dan salafisme di berbagai universitas sehingga menyuburkan pandangan patriarkhi-misoginis yaitu mengerdilkan, menyingkirkan, meneguhkan inferioritas dan melecehkan perempuan. Semakin konservatisme menguat di kampus, maka semakin tepringgirkan para dosen dan para pejabat fungsional perempuan di kampus-kampus.  

Tepat pukul 18.00 WIB pemaparan materi dan sesi diskusipun berakhir, Siti Ruhanawati, KSI, menutup acara tersebut. Sejumlah rekomendasipun dihasilkan diantaranya, pertama, perlu mengakifkan kembali Pusat Studi Wanita (PSW) atau Pusat Studi Gender (PSG) di berbagai kampus di Indonesia; Kedua, kuota 30% kepemimpinan perempuan harus di berlakukan perguruan tinggi melalui assessment BAN-PT; Ketiga, Penambahan alokasi anggaran/hibah penelitian bagi perempuan; Keempat, pada tingkatan kurikulum, perlu memasukkan mata kuliah gender; dan kelima, perlu adanya role model bagi dosen untuk mentoring dari dosen yang sensitif gender. (TR)

Share this:

Studia Islamika

Agenda PPIM