Selamat Datang di Website Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat UIN Jakarta

Lestarikan Naskah Kuno ASEAN, PPIM Luncurkan DREAMSEA



Jakarta, Gedung Perpustakaan Nasional – Awal tahun 2018, Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta secara resmi meluncurkan program pelestarian naskah kuno Asia Tenggara yang dinamakan dengan DREAMSEA. Peluncuran program ini dilakukan pada 24 Januari 2018 di Gedung Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, ditandai dengan pemukulan gong oleh Drs. Muh. Syarif Bando, MM selaku Kepala Perpustakaan Nasional RI dan didampingi oleh Direktur Eksekutif PPIM, Saiful Umam, Ph.D.

DREAMSEA merupakan kependekan dari Digital Repository of Endangered and Affected Manuscripts in Southeast Asia. Melalui DREAMSEA, PPIM ingin mengajak seluruh lapisan masyarakat Asia Tenggara untuk bersama-sama merawat naskah kuno yang merupakan warisan leluhur. Selain PPIM, program ini dijalankan bersama-sama dengan Centre for the Study of Manuscript Cultures (CSMC) Universitas Hamburg, Jerman, atas dukungan dari ARCADIA yang berkedudukan di London.

“Sebagai lembaga yang memiliki fokus pada kajian Asia Tenggara, PPIM melalui DREAMSEA akan mengedukasi masyarakat Asia Tenggara mengenai pentingnya menjaga naskah kuno. Untuk itu, kami sangat berharap partisipasi aktif masyarakat dan pemerintah untuk bersama-sama mensukseskan program ini”, ajak Saiful Umam dalam sambutan peluncuran program.

DREAMSEA merupakan program perawatan dan pelestarian naskah kuno yang berada di Asia Tenggara melalui alih media atau digitalisasi. Gagasan ini dimulai oleh dua orang ahli naskah kuno Nusantara yaitu Profesor Oman Fathurahman (PPIM) dan Profesor Jan van der Putten (CSMC) yang kemudian keduanya menjadi Principal Investigator DREAMSEA.

Jan van der Putten, yang didaulat memaparkan program ini, memberikan landasan historis mengapa Asia Tenggara dipilih dalam program ini. Menurut Jan, DREAMSEA bertujuan untuk mempertahankan keberagaman kebudayaan yang ada di Asia Tenggara, yang perlahan-lahan tergerus oleh perkembangan zaman.

“Selain itu, DREAMSEA juga ingin menunjukkan kepada masyarakat luas bahwa modernitas dan tradisi tidak perlu dipertentangkan. Keragaman, meskipun zaman terus berubah, tetap harus dijaga”, papar Jan.

Program DREAMSEA akan berlangsung hingga tahun 2022. Selama itu, program ini mencanangkan target untuk mendigitalkan 240.000 lembar naskah kuno yang akan dihimpun dalam sebuah repositori online bernama “Database of Southeast Asian Manuscripts”. Portal ini nantinya bisa diakses secara luas untuk kepentingan publik dan akademik.

 

Cara Pandang Baru Menyelamatkan Naskah Kuno

Kemeriahan peluncuran DREAMSEA ditunjukkan oleh kehadiran peserta yang mencapai 200 orang yang terdiri dari para pemerhati naskah kuno Asia Tenggara baik dari elemen pemerintah, akademisi, budayawan, maupun media massa. Panitia membingkai peluncuran program ini dengan sebuah seminar yang mengambil tema “Digitalisasi Manuskrip sebagai Upaya Merawat Keragaman Artefak Sejarah dan Budaya Asia Tenggara”.

Diskusi ini menghadirkan Dr. Munawar Holil (Ketua Umum Masyarakat Pernaskahan Nusantara), Drs. Muh. Syarif Bando, MM (Kepala Perpustakaan Nasional RI), dan Drs. Suharja (Kasubdit Sejarah Nasional, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI) sebagai narasumber. Selain itu, diskusi ini dipandu oleh Aditia Gunawan, MA (Filolog Sunda) sebagai moderator.

Munawar Holil mengawali paparannya dengan memetakan kondisi pernaskahan Nusantara. Pria yang akrab disapa Mumu ini menyebutkan bahwa banyak sekali pewaris naskah kuno tidak tahu-menahu arti dan makna yang terkandung di dalamnya. Naskah juga seringkali rusak diakibatkan oleh perpindahan kepemilikan secara turun-temurun. Dosen Universitas Indonesia ini juga menjelaskan tantangannya ketika menemui sejumlah pemilik naskah kuno.

“Tantangannya adalah masyarakat masih menganggap naskah kuno sebagai benda pusaka sehingga masih enggan untuk diteliti dan didigitalkan”, papar Mumu.

Mendukung pernyataan Mumu, Suharja menegaskan kembali bahwa naskah kuno adalah benda cagar budaya yang keberadaannya dilindungi oleh undang-undang. Untuk itu, pemerintah terus mengupayakan untuk mengedukasi masyarakat terutama kalangan muda untuk meningkatkan kepeduliannya terhadap naskah kuno.

“Karena naskah kuno mudah rusak dan tidak banyak yang menggeluti, maka program DREAMSEA sangat penting dalam melestarikan yang berisi beragam budaya bangsa seperti serat, babad, hikayat, dan kitab”, ungkap Suharja.

Muh. Syarif Bando pun memaparkan program strategis Perpustakaan Nasional RI dalam pelestarian naskah kuno. Syarif memaparkan bahwa Perpustakaan Nasional sangat berkenan dalam mewadahi pelestarian pernaskahan nusantara. Tentunya dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat dan stakeholder.

“Yang menjadi penting adalah bagaimana mengumpulkan naskah-naskah yang berserakan tersebut? Bagaimana mendapat makna dari manuskrip-manuskrip tersebut di tengah terbatasnya orangnya yang bisa membacanya?”, seru Syarif sambil mengaitkan relevansinya dengan DREAMSEA.

Di akhir sesi seminar, Oman Fathurahman selaku Principal Investigator DREAMSEA didaulat untuk memberikan kata-kata penutup diskusi. Menurutnya, meskipun program digitalisasi naskah kuno sudah berlangsung sejak tahun 2000an, namun pada masa itu dalam konteks Asia Tenggara hanya di Indonesia yang berjalan masif hingga saat ini sementara Asia Tenggara secara umum masih belum tersentuh secara merata. Untuk itu, Peneliti PPIM ini mengajak masyarakat untuk memikirkan kembali untuk menjaga keberagaman dan kebersamaan yang selama ini telah terbangun di Nusantara secara historis.

“Asia Tenggara ini kawasan yang sangat beragam dari segi sosial, politik, agama, dan budaya terutama naskah kuno. Untuk itu, kami ingin menyuguhkan cara pandang baru dalam menyelamatkan naskah kuno. Isu diversity adalah kata kuncinya”, ungkap Oman sambil mempopulerkan hashtag #SaveOurManucripts. [MNF]

Foto: HUMAS Perpusnas

Share this: