Selamat Datang di Website Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat UIN Jakarta

Oman Fathurahman: Pedagang Asongan Jadi Staf Ahli Menteri Agama



 

Jakarta, PPIM – Jumat (22/12/2017) adalah hari yang membanggakan bagi keluarga besar Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pasalnya, pada hari itu, Peneliti Senior PPIM, Prof. Dr. Oman Fathurahman, dilantik menjadi Staf Ahli Menteri Agama Bidang Manajemen Komunikasi dan Informasi pada Kementerian Agama RI.

Bertempat di Auditorium HM. Rasjidi di Gedung Kementerian Agama, Oman dilantik oleh Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin, bersama dengan 29 pejabat lainnya. Dalam sambutannya, Menteri Agama menyampaikan bahwa pelantikan ini dilakukan dalam rangka melayani kehidupan umat beragama. Untuk itu, Menteri Lukman menekankan agar para pejabat yang dilantik bisa memahami makna jabatan yang sesungguhnya.

“Pahami dengan baik apa jabatan itu. Jaga kepercayaan negara dan kepercayaan yang diberikan Tuhan”, demikian ungkap Menag.

Dihubungi usai pelantikan, Ayah bagi Fadli, Alif, dan Jiddane ini mengungkapkan harapannya agar bisa mengemban amanah tersebut dengan sebaik-baiknya. Guru Besar Filologi Islam ini berjanji akan tetap istiqamah untuk selalu berada di jalan yang benar. Selain itu, ia juga tidak akan melepaskan aktivitas akademiknya sebagai pengkaji dan pelestari manuskrip-manuskrip Nusantara.

“Terima kasih atas ucapan dan doa-doanya. Saya berhutang budi kepada Kampus UIN Syarif Hidayatullah yang telah membesarkan saya, khususnya PPIM UIN Jakarta tempat sehari-hari saya meneliti. Tentu capaian ini juga tak lepas dari dukungan istri dan anak-anak saya yang tulus. Mohon dukungannya agar saya bisa menjalankan amanah ini dengan baik”, ungkap suami dari Husnayah Alhudayah ini.

Direktur Eksekutif PPIM, Saiful Umam, Ph.D, pun mengungkapkan kebanggaannya. Saiful mengatakan bahwa Oman adalah aset yang sangat berharga bagi PPIM khususnya, dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta umumnya. Apalagi ia sekarang dipercaya sebagai Managing Editor jurnal bereputasi internasional Studia Islamika yang diterbitkan oleh PPIM. Tentu saja menjadi kebanggaan yang tidak terkira apabila asetnya dapat memberikan kontribusi positif bagi pembangunan bangsa dan Negara lebih luas.

“Tentu saja ini adalah kebanggaan untuk kami di PPIM. Kami berpesan agar Oman bisa mendampingi Pak Menteri dengan baik sehingga dapat meningkatkan level kinerja Kementerian Agama”,  harap Saiful.

 

Dari Pedagang Asongan Jadi Staf Ahli Menteri

Menjadi Staf Ahli Menteri jelas bukan sesuatu yang berani Oman impikan. Sebagai ‘orang kampung’, dulu ia hanya memiliki cita-cita sederhana yang waktu itu menjadi tantangan terberat bagi dirinya, yaitu menjadi ‘mahasiswa’.

Oman dilahirkan di Kuningan, Jawa Barat, pada 8 Agustus 1969 dalam keluarga santri religius yang penuh dengan keterbatasan dan kesederhanaan. Ayahnya pernah menjadi katib Syuriah NU Kabupaten Kuningan, dan ibunya seorang guru agama. Meskipun kedua orang tuanya adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS), namun penghasilannya tidaklah mencukupi untuk menafkahi anak-anaknya yang berjumlah sembilan. Alhasil, kedua orang tua Oman setengah bersumpah akan menyekolahkan anak-anaknya hanya sampai jenjang SMA.

‘Encep’, demikian panggilan kecil Oman, yang memiliki semangat belajar yang sangat luar biasa ini tidak merasa puas dengan keputusan kedua orangtuanya. Pada 1987, usai menamatkan pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Cipasung di Tasikmalaya, Jawa Barat, Oman dinyatakan diterima kuliah di IAIN (sekarang UIN) Sunan Gunung Djati Bandung melalui jalur PMDK. Namun, KH. Moh. Harun dan Ny. Sukesih, orang tua Oman, tidak mampu membiayai perkuliahannya.

Tidak jadi kuliah, Oman malah dikirim oleh orang tuanya ke Pesantren Baitul Hikmah Haurkuning Salopa di Tasikmalaya. Satu tahun di sana untuk belajar ilmu nahwu shorof, menghapal Ajurumiah hingga Alfiyah, Oman pulang ke Kuningan menemui orang tuanya untuk meminta restu kuliah. Dengan alasan yang sama, izin pun ditolak dan kembali Oman dikirim lagi menjadi santri di Pesantren Miftahul Huda Manonjaya, Tasikmalaya.

Meski berat hati menerima keputusan kedua orang tuanya, Oman tidak pernah setengah hati menjalani keputusan itu. Selama masa-masa nyantri itu, Oman tetap berprestasi dan menjadi kebanggaan segenap keluarga besar pesantren. Di Haurkuning, Oman menjadi supir pribadi motor K.H. Saefuddin Zuhri dan mendampingi kemanapun Kiai pergi; di Manonjaya, Oman juga menjadi juara pertama lomba pidato se-Pesantren.

Meski bergelimang prestasi selama di pesantren, harapan untuk menjadi mahasiswa tidak pernah hilang dari pikirannya. Pada akhir 1988, Oman pun memilih ‘kabur’ ke Jakarta.

Atas bantuan sepupunya di Kebayoran Lama, Oman diizinkan untuk menumpang hidup selama di Jakarta. Untuk mengumpulkan biaya daftar kuliah, Oman nekad menjajakan rokok dan permen sebagai pedagang asongan. Setiap hari di bawah terik matahari ia berjalan kaki dari Kebayoran Lama menuju Tanah Abang hingga Djakarta Theater di kawasan Sarinah. Dengan penghasilan bersih hanya Rp. 1.000-1.500 perhari, Oman meratapi nasibnya dan hampir merasa putus asa bahwa hapalan Jurumiah dan Alfiyahnya tidak berguna sama sekali. Angan-angannya untuk kuliah pun rasanya tidak akan pernah tercapai.

Harapannya kembali muncul saat ia mendapati iklan Koran Penerbit Kalam Mulia yang mencari Editor Bahasa Arab. Dari sini, Oman mulai mensyukuri keputusan orang tuanya saat ‘membuangnya’ ke pesantren untuk belajar bahasa Arab. Dengan percaya diri, Oman melamar dan dinyatakan diterima dengan gaji Rp. 80.000. Matanya kembali berbinar-binar mengharap bisa menabung untuk biaya kuliah.

Tahun 1990 adalah kesempatan terakhir Oman untuk kuliah sebab setelah itu ijazah MAN-nya akan kadaluarsa. Di pertengahan tahun itu, ia mendaftarkan diri untuk kuliah dan diterima di Jurusan Sastra Arab, IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Oman pun resmi berjaket mahasiswa.

Tempaan hidup itu ternyata membekas di hati dan pikiran Oman. Selama kuliah, ia terus mengasah kemampuan akademiknya sembari berjualan jam tangan, batik, dan terakhir kacamata, untuk membayar kuliah. Selain sebagai pedagang, Oman juga merupakan aktivis mahasiswa. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Komisariat Fakultas Adab Cabang Ciputat (1992-1993) dan Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Adab (1994). Sampai pada akhirnya, pada tahun 1994, jenjang kuliah yang selama ini diidam-idamkan itu usai dilaksanakan. Resmi sudah Oman menjadi Sarjana Agama (S.Ag) di bidang Sastra Arab dengan predikat cumlaude.

Sejak saat itu, nasib Oman terus membaik. Setelah lulus, Prof. Dr. Nabilah Lubis yang kala itu menjadi Dekan Fakultas Adab meminta bantuan Oman untuk menyunting draft buku hasil disertasinya yang membahas Zubdatul Asrar, sebuah naskah kuno berbahasa Arab dengan terjemah Jawa Pegon karangan Syekh Yusuf Makassar. Ia memperbaiki bacaan-bacaan dan keselarasan teks Arab dengan terjemah Pegon yang tertulis dalam naskah tersebut sebelum diterbitkan. Inilah awal mula perkenalan Oman dengan ilmu filologi. Hasil suntingan Oman pun diketahui oleh Henri Chambert-Loir, seorang filolog asal Prancis yang kemudian jatuh hati pada kemampuan bahasa Arab dan bahasa daerah Oman, serta menawarinya untuk magang di EFEO, lembaga penelitian Prancis di Jakarta yang dipimpinnya.

Pengalaman-pengalaman menggeluti teks-teks dan masa-masa sulitnya saat di pesantren adalah modal penting saat Oman memutuskan melanjutkan kuliahnya pada jenjang S2 (1998) dan S3 (2003) di Program Studi Ilmu Susastra, Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Di saat teman-teman seperjuangannya menggeluti Islamic Studies yang saat itu sedang ngetrend, Oman pun memilih berbeda dengan memilih studi filologi sebagai yang sepi peminat. Ia pun memperoleh beasiswa dari Yayasan Pernaskahan Nusantara (Yanassa).

Ketekunannya dalam membaca sekaligus melestarikan naskah-naskah kuno Nusantara telah membawa Oman meraih gelar Guru Besar filologi Islam pertama di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI). Ia meraih gelar itu pada Maret 2014 dari kampus almamaternya, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Baginya, gelar itu merupakan buah dari konsistensinya dalam meneliti dan mempublikasikan hasil-hasil risetnya, khususnya ketika ia berkesempatan menjadi peneliti tamu (visiting fellow) di sejumlah universitas ternama di Jerman, Oxford, Tokyo, Kyoto, dan Osaka.

Pengalaman-pengalaman hidup itu sedemikian mengalir menghinggapi dirinya dengan nuansa dan dinamika yang berbeda-beda. Oman, santri pesantren yang hanya memiliki cita-cita sederhana menjadi mahasiswa pun menjelma menjadi professor di bidang ilmu yang sangat langka, filologi. Oman yang dulu pernah menjadi pedagang asongan dan ‘pelayan’ kiai pun kini telah dilantik menjadi Staf Ahli, pendamping, Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin. “Bagi saya, jabatan ini adalah amanah sekaligus ujian dari Allah Swt, untuk saya dan keluarga. Semua ini saya peroleh karena adanya restu dan bekal pendidikan agama dari kedua orang tua, serta berkah dari para kyai dan guru-guru di pesantren”, pungkas Oman.

Selamat bertugas, Pak Oman! [MNF]

Share this: