Selamat Datang di Website Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat UIN Jakarta

Sudahkah ‘Gender’ Hadir di Perguruan Tinggi?

  • Writer: Admin
  • Category: Artikel
  • Published: June 9, 2017
  • Hits: 142

Keterangan: Sesi foto bersama di akhir acara

Jakarta, KSI – Pengarusutamaan gender terus dilakukan para pejuang gender, utamanya perempuan, secara massif di dalam ruang-ruang pendidikan. Namun, sudahkah upaya tersebut berbuah manis? Sudahkah keseteraan gender hadir dalam dunia pendidikan? Atau jangan-jangan, pengarusutamaan ini tidak menghasilkan apapun?

Guna menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, Knowledge Sector Initiative (KSI) bekerjasama dengan Kementerian PPN/Bappenas menyelenggarakan Expert Meeting dengan tema “Gender Inequality in Human Resources and Higher Education” pada 30 Mei 2017. Pertemuan ini bertujuan untuk melihat lebih dalam perkembangan isu kesenjangan gender pada pendidikan tinggi di Indonesia, dan bagaimana kebijakan pemerintah dalam mendukung kesetaraan dan keadilan gender pada pendidikan tinggi di Indonesia.

Tampil Lies Marcoes, sebagai fasilitator pada acara tersebut. Dengan penuh antusias, ia memandu acara sembari mengingatkan kepada peserta bahwa, hasil pertemuan ini akan dijadikan rujukan dalam penulisan Laporan Kajian Sumber Daya Manusia dan Kesetaraan Gender pada Pendidikan Tinggi di Indonesia. “Ibu-ibu dan bapak-bapak, di akhir sesi acara nanti kita diminta untuk memberikan rekomendasi kepada KSI untuk laporan Kajian SDM dan kesetaraan gender, ini adalah langkah baik yang dilakukan oleh KSI untuk mendorong kesetaraan gender di perguruan tinggi” papar Konsultan Gender KSI ini.

Selain itu, acara yang berlangsung selama setengah hari di Hotel Century Atlet Senayan, Jakarta tersebut dihadiri oleh 25 orang perwakilan dari mitra KSI, seperti Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta, Sayogyo Institute, Polgov UGM, Smeru, PPH Atma Jaya, PKMK UGM, dan Elsam. Meskipun acara dilaksanakaan pada bulan Ramadhan, tidak mengurangi antusias dan semangat peserta kala itu, apalagi KSI menghadirkan narasumber yang expert di bidangnya yakni; Woro Srihastuti Sulistyaningrum (Kementerian PPN/Bappenas), Yulfita Raharjo (AIPEG), Pranova Herdiyanto (Kasubdit Informasi dan Pusdatin Iptek, Kemenristekdikti), Siti Ruhaini Dzuhayatin (UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta). Berikut paparan dan temuan menarik mengenai kesenjangan gender yang terjadi di perguruan tinggi.

Woro Srihastuti Sulistyaningrum, Direktur Keluarga, Perempuan, Anak, Pemuda dan Olahraga Bappenas, membuka tema wacana gender pada pendidikan tinggi di Indonesia. Menurutnya, wacana gender belum menjadi perhatian pada lembaga pendidikan di Indonesia. Salah satu contohnya, terlihat pada proses belajar mengajar dan kurikulum pendidikan yang masih belum responsif gender (stereotype gender). Padahal prestasi akademik anak perempuan jauh lebih unggul dibanding anak laki-laki, baik dilihat dari nilai ujian nasional maupun dalam test internasional seperti PISA dan TIMSS. Oleh karena itu, di akhir paparannya Woro berharap pemerintah perlu mengembangkan kurikulum yang responsif gender supaya tidak lagi terjadi kesenjangan gender.

Tidak hanya pada tataran kurikulum, kesenjangan gender juga terjadi pada Human Development Index (HDI) di Indonesia, menurut Yulfita. Ketidakadilan indikator penilaian pada HDI menyebabkan turunnya nilai HDI di Indonesia terutama HDI perempuan. “Seharusnya, tiga aspek penilaian HDI yaitu kesehatan, pendidikan dan ekonomi, harus punya indikator yang berbeda antara laki-laki dan perempuan karena beragam SDM itu mempunyai kebutuhan, kesulitan, dan keinginan sendiri yang memerlukan pendekatan tersendiri, jangan di samakan” papar Yulfita dengan lantang. (TR)

Share this:

Studia Islamika

Agenda PPIM