Selamat Datang di Website Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat UIN Jakarta

Tahun Ini, PPIM Berangkatkan Lagi Pimpinan Pesantren ke Jepang

  • Writer: Admin
  • Category: Artikel
  • Published: October 13, 2017
  • Hits: 254

Jakarta, PPIM – Pimpinan pesantren adalah duta bagi masyarakat Indonesia dan masyarakat muslim. Demikian hal ini disampaikan oleh Dewan Penasehat PPIM, Prof. Dr. Jamhari, saat menyambut kehadiran 10 delegasi pimpinan pesantren yang baru saja pulang mengikuti program kunjungan ke Jepang di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta, (12/10).

“Selama di Jepang, Bapak dan Ibu telah berhasil menjalankan dua misi, yaitu sebagai diplomat Indonesia sekaligus juga sebagai duta masyarakat muslim. Bapak dan Ibu berhasil mempromosikan bahwa Indonesia adalah bangsa yang toleran dan ramah sekaligus menyampaikan pesan bahwa inilah wajah Islam yang sesungguhnya. Bukan Islam yang dikenal kasar dan membunuh”, ungkap Jamhari yang juga merupakan inisiator kegiatan ini.

Selain Jamhari, turut menyambut juga Dr. Saiful Umam sebagai Direktur Eksekutif PPIM dan HE. Kozo Honsei sebagai Wakil Duta Besar Jepang untuk Indonesia. Dalam sambutannya, Kozo menaruh harapan besar agar kunjungan ini dapat diimplementasikan di pesantren masing-masing. Selain itu, Kozo juga siap menjamin keberlangsungan program ini di tahun-tahun berikutnya.

“Tahun depan (2018), adalah peringatan 60 tahun persahabatan antara Indonesia dan Jepang. Untuk itu, kami siap memperpanjang program pertukaran semacam ini agar persahabatan kita semakin erat”, ungkap Kozo yang disambut riuh tepuk tangan peserta.

 

Memberikan Inspirasi dalam Memajukan Pesantren

Program Kunjungan Pimpinan Pesantren ke Jepang telah diinisasi oleh PPIM dan Kedutaan Besar Jepang di Indonesia dan secara rutin dilaksanakan sejak tahun 2002. Setiap tahunnya, sekitar 10 orang delegasi dari penjuru Indonesia bergiliran untuk diberangkatkan.

Tahun ini, kegiatan dilaksanakan pada 1-12 Oktober 2017 dan berada di Jepang selama 10 hari. Para peserta berasal dari pesantren-pesantren di Magelang, Sumbawa Besar, Lamongan,  Depok, Pacitan, Palembang, Banyumas, Lombok Timur, dan Tasikmalaya. Selain itu, mereka juga didampingi oleh satu orang peneliti PPIM sebagai Ketua Rombongan.

Selama 10 hari, peserta berkeliling kota Tokyo, Hiroshima, dan beberapa kota di wilayah Kansai untuk mengunjungi berbagai tempat penting seperti sekolah, universitas, tempat ibadah, dan kawasan industri. Ketua Rombongan, Laifa Annisa Hendarmin, memaparkan bahwa agenda di sana sangat padat sehingga banyak pengalaman penting yang didapatkan.

“Di Hiroshima, kami juga melakukan homestay, tinggal bersama masyarakat setempat selama dua hari. Selama itu, kami dapat merasakan banyak sekali perilaku keseharian masyarakat Jepang yang patut ditiru oleh masyarakat Indonesia”, ungkap Laifa dalam laporannya.

Ali Fauzi, delegasi dari Pesantren Al-Islam Lamongan, turut mengamini apa yang disampaikan Laifa. Dia mengaku mendapatkan banyak ide dan inspirasi yang bisa diterapkan di pesantrennya. Banyak sekali nilai-nilai keislaman yang diterapkan oleh masyarakat Jepang meskipun mereka bukan muslim. Selain itu, sebelum mengikuti kunjungan ini, ia juga mengaku memiliki pandangan negatif terhadap Jepang sebelumnya.

“Sejujurnya saya punya pandangan negatif terhadap Jepang. Paman saya korban romusha. Tapi ketika mengobrol langsung dengan salah satu warga korban bom atom Hiroshima, kami jadi tersadar bahwa Jepang bisa maju karena mereka bisa bangkit dari keterpurukan. Mereka bukan bangsa pendendam”, kenang Ali Fauzi.

Peserta lain dari Pesantren Putri Al-Hidayat Magelang, Wafiyatul Muflichah, juga menyatakan kekagumannya. Baginya, kunjungan ini adalah implementasi dari Alquran surat al-Hujurat ayat 13 yang mengajarkan umat Islam untuk saling mengenal dengan bangsa dan agama lain. Selama di Jepang, ia melihat bahwa sebenarnya kedisiplinan yang diterapkan dalam sistem pendidikan Jepang tidak jauh berbeda dengan sistem pendidikan pesantren.

“Di sana, biaya sekolah sangat mahal bisa mencapai 120 juta rupiah setahun. Meskipun mahal, yang membersihkan sekolah adalah siswa-siswanya. Mirip sekali dengan pesantren”, ungkap wanita penghafal Alquran ini.

Menutup laporan kunjungannya, Laifa menyatakan kekagumannya kepada para peserta kunjungan. Dokter Gigi lulusan Jepang ini menyampaikan bahwa semua peserta berperilaku sangat baik selama di Jepang. Tidak ada kesan buruk yang ditinggalkan oleh mereka termasuk diantaranya soal kedisiplinan.

“Saya berharap suasana selama di Jepang dapat diterapkan di pesantren masing-masing bersama para santri. Secara umum, kami merasakan manfaat yang sangat besar dari program ini. Semoga program ini terus berlanjut”, harap Laifa.

Berikut adalah pimpinan pesantren peserta kunjungan ke Jepang tahun 2017:

  1. Laifa Annisa Hendarmin: PPIM UIN Jakarta (Ketua Rombongan).
  2. Wafiyatul Muflichah: PP. Putri Al-Hidayat, Magelang, Jawa Tengah.
  3. Ahmad Nahid: PP. Modern Internasional Dea Malela, Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat.
  4. Ali Fauzi: PP. Al-Islam, Lamongan, Jawa Timur.
  5. Latifah Mahmudi: PP. Al-Manar Azhari, Depok, Jawa Barat.
  6. Ali Mufron: PP. Tremas, Pacitan, Jawa Timur.
  7. Iqbal Mustopa: PP. Amanah Muhammadiyah, Tasikmalaya, Jawa Tengah.
  8. Mohammad Muhsan: PP. Ar-Rahman, Palembang, Sumatera Selatan.
  9. Zahroh: PP. Madrasah Wathoniyah Islamiyah, Banyumas, Jawa Tengah.
  10. M. Mugni: PP. Cendekia DLM NW, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.

Share this:

Studia Islamika

Agenda PPIM