Islam adalah agama rahmatan lil alaminPertentangan antara Islam dan Barat dipandang tidak lagi relevan. Sekarang yang ada hanya kerja sama dalam banyak hal. Dengan itu. citra Islam yang santun akan mudah dikenal dan diterima. Pesan ini yang ditekankan oleh dosen dan peneliti pada PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Ustaz Ayang Utriza Yakin Phd kepada wartawan Republika. Hannan Putra. Berikut kutipan wawancaranya.

Hipotesis Islam versus Barat apakah masih relevan?

Ini sebenarnya hanya perdebatan masa lampau sebelum 1940-an dan 1950-an. Terutama dalam tubuh umat Islam sendiri. Kalau kita masih mempertentangkan antara Islam dan Barat. Kita tidak bisa maju-maju lagi.

Bahkan, setelah revolusi Iran pada 1979, Imam Khamaini menyebutkan slogan laa syakiyyah wa laa gharbiyyah islamiyyah islamiyyah (tidak ada lagi golongan Timur. tidak ada lagi golongan Barat. Tetapi. Islam adalah Islam). ltu artinya wacana mengenai pertentangan Islam versus Barat sudah tidak lagi relevan.

Apa Barat harus dirangkul? Seperti apa caranya?

Saya pikir ini bukan lagi soal rangkul­merangkul atau saling simpati. Namun. kita harus bekerja sama dan bersinergi karena kita hidup di dalam global village atau desa dunia. Kita hidup di bawah kolong langit, menghirup udara. serta berpijak pada bumi yang sama.

Saya pikir, baik Islam maupun Barat harus bekerja sama dalam banyak hal seperti di bidang kemanusiaan, perkembangan ilmu, sains, dan teknologi. Jadi, Islam harus bergandengan tangan dengan Barat. Sudah tidak relevan lagi kalau terus dipertentangkan.

Bagaimana Islam dan Barat bekerja sama?

Cara bekerja sama itu banyak sekali dalam berbagai bidang. Misalnya. kerja sama antar­universitas. seperti yang dilakukan oleh Indonesia yang bekerja sama dengan universitas-universitas yang ada di Eropa dan Amerika. Menurut saya, itu adalah bentuk kerja sama yang baik untuk membangun peradaban bersama antara Islam (Indonesia) dan Barat (Eropa atau Amerika). Di samping itu, banyak hal yang bisa diperbuat, seperti di bidang ekonomi, sosial dan budaya.

Penembakan Charlie Hebdo yang terjadi beberapa waktu lalu, bagaimana pendapat Anda?

Saya sepakat dengan hampir banyak orang serta ulama-ulama dan pimpinan-pimpinan agama bahwa apa pun kritik yang dimunculkan oleh masalah yang disebabkan kebebasan berekspresi dalam negara yang demokratis seperti Prancis tidak bisa dijawab dengan kekerasan.

Menurut saya, tidak bisa dijawab dengan aksi­aksi terorisme dan kebiadaban yang telah kita saksikan bersama satu minggu yang lalu. Itu hanya merugikan serta memunculkan pembenaran pemikiran bahwa selama ini Islam adalah agama teroris.

Saya pikir apa yang dilakukan oleh pelaku yang dibantu beberapa kawannya menurut saya tidak benar. Karena itu sudah melanggar aturan Rasulullah dalam sunahnya dan Allah dalam Alquran. Banyak sekali ayat-ayat di dalam Alquran yang mengajarkan itu, seperti wajaadilhu billati hiyaa ahsan (dan debatlah mereka dengan cara yang terbaik). Jadi, bukan dengan pembunuhan seperti itu karena cara tersebut bukanlah cara Islam. Agama Islam tidak menoleransi hal-hal yang seperti itu.

Menurut Anda, apa dampak dari kejadian ini?

Banyak sekali, luar biasa dampaknya. Pertama, kita bisa saksikan setelah pembunuhan itu ada semacam tindakan balas dendam. Entah itu dilakukan oleh orang-orang Prancis yang ateis, Protestan, Yahudi, dan lainnya. Mereka seakan­-akan membalas dendam. ltu bisa kita baca dengan gamblang melalui surat-surat kabar berbahasa Prancis yang saya bisa akses. Misalnya, banyak masjid yang dilempari granat dengan volume ledakan yang kecil, kemudian digambarkan kepala babi lalu darah babi tersebut dicipratkan.

Belum lagi kekerasan-kekerasan terhadap umat Islam khususnya Prancis, serta umumnya di Eropa. Jadi, dampaknya luar biasa, yaitu tindakan balas dendam. Kedua, ini akan mempersulit umat Islam di Prancis untuk menjalankan ajaran agama. Misalnya, curiga terhadap mereka yang berjilbab, yang rajin ke masjid, serta adanya pengawasan terhadap khutbah-khutbah Jumat di berbagai masjid. lni kan sangat merugikan umat Islam.

ltu baru gambaran di Prancis saja. apalagi di keseluruhan negara-negara Eropa. Setelah kejadian itu. gelombang prates antijihad dan anti­Islam itu terjadi di mana-mana. Meskipun. semua pimpinan umat Islam sudah menyatakan bahwa mereka mengutuk aksi tersebut dan mengatakan bahwa itu bukanlah bagian dari Islam.

Dari segi ekonomi, banyak orang-orang Islam di Prancis terutama orang-orang keturunan Afrika (Maroko/Aljazair/Tunisia) yang berjualan sayur­-sayuran, buah-buahan, daging, ikan, roti, dan lain-lain. Banyak sekali orang Arab yang berjualan di sana. lni akan berdampak terhadap mereka yang berjualan. Akibat kejadian tersebut, orang­-orang tidak mau lagi melakukan transaksi jual beli dengan orang Islam.

Secara sosial potitik juga berdampak lebih luas lagi. Jadi. seluruh aspek kehidupan merasakan dampak yang luar biasa dari kejadian tersebut. Sehingga, umat Islam yang ada di Eropa berupaya keras untuk mengembalikan kepercayaan orang­-orang di sana dengan memberikan citra positif tentang Islam. Jadi, satu orang berbuat kesalahan yang jelas-­jelas tidak ditolerir oleh agama kita, tetapi yang menanggung dampaknya seluruh umat Islam. khususnya yang ada di Eropa.

Apa upaya para ulama Eropa untuk menetralisasi keadaaan?

Saya pikir ulama-ulama di Eropa harus meninggalkan pola dakwah yang mengajak kepada kebencian dan kekerasan. Contohnya kebencian terhadap agama-agama tertentu. Lalu, jangan mengajarkan sesuatu yang tidak cocok dilakukan di Eropa.

Misalnya tentang jihad. Jihad itu banyak sekali macamnya, tetapi jihad ini selalu diartikan sebagai peperangan melawan kaum kafir. Padahal, jihad seperti itu hanya boleh dilakukan di negara yang sedang berkonflik, seperti Israel dan Palestina.

Jadi, para ulama jangan lagi berceramah tentang hal yang sensitif seperti jihad. Bahkan, harus memberikan arti baru terhadap tema-­tema seperti jihad. Selain itu, mereka juga harus memperbanyak ceramah yang menyeru persatuan di dalam negara. Menghargai kebudayaan setempat, serta integrasi dengan kehidupan di sana tanpa melupakan identitas mereka sebagai umat Islam Eropa.

Di samping mengajarkan hal-hal yang positif, ulama bisa juga berperan untuk mengajak umat Islam ikut berpartisipasi dalam kehidupan sosial dan bernegara di mana mereka tinggal Kalau untuk ulama di lndonesia, mereka bisa menjelaskan kejadian yang di Prancis tersebut melalui ceramah atau khutbah bahwa tindakan seperti itu bukanlah ajaran Islam. Para ustaz dan kiai juga harus terus menyampaikan Islam yang damai.

Sumber: Republika (16/01/2015)