Dapatkan Segera Buku & Hasil Penelitian PPIM UIN Jakarta Download Sekarang

SIARAN PERS HASIL PENELITIAN “Dakwah Digital: Narasi Agama di Platform Online dan Televisi Indonesia”

SIARAN PERS HASIL PENELITIAN “Dakwah Digital: Narasi Agama di Platform Online dan Televisi Indonesia”

Jakarta, PPIM – Hadirnya berbagai media digital ternyata tidak begitu saja menyurutkan peran televisi sebagai sumber informasi, termasuk di dalamnya informasi agama. Alih-alih ditinggalkan publik, televisi justru ikut termotivasi untuk terus menyesuaikan diri dengan perkembangan digital. Beberapa data survei misalnya menunjukan bahwa popularitas televisi sebagai sumber pengetahuan agama di kalangan generasi muda mencapai lebih dari 30%. Signifikansi televisi dalam diseminasi isu agama juga terlihat dari banyaknya produksi program religi di berbagai stasiun televisi dalam berbagai format baik dalam bentuk edutainment, talkshow maupun ceramah monolog. Acara-acara keagamaan tersebut masih banyak digemari masyarakat terlihat dari tingginya rating share yang didapatkan. Dalam hal ini, televisi masih dimanfaatkan sebagai media dakwah dan menarasikan paham keagamaan di Indonesia.

Hal ini menjadi tema besar yang baru saja diteliti oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Bertajuk “Dakwah Digital: Narasi Agama di Paltform Online dan Televisi Indonesia”, penelitian ini fokus mengkaji konstruksi dan diseminasi narasi dan paham keagamaan di televisi serta motivasi dan proses produksi acara agama di televisi. Penelitian dilakukan pada kedua tipologi televisi, yaitu televisi konvensional dan non-konvensional. Televisi konvensional merupakan televisi yang memanfaatkan sumber frekuensi satelit terestrial konvesnional, sementara televisi non-konvensional dimaknai sebagai televisi yang memanfaatkan internet (Youtube) untuk menyiarkan program agama.

Diseminasi hasil penelitian ini akan dilakukan pada Kamis, 29 April 2021 secara online melalui aplikasi zoom. Temuan-temuan penting akan disampaikan oleh koordinator riset ini, Iim Halimatusa’diyah, Ph.D dan data scientist Taufik Sutanto, Ph.D.  Selain itu, PPIM juga mengundang pakar dan  peneliti  yang mengkaji agama dan televisi sebagai narasumber. Nama-nama seperti Nuning Rodiyah, M.Pd.I, Prof. James B. Hoesterey, dan Dr. Ade Armando, M.Sc.

Penelitian ini menggunakan metode gabungan (mixed method) antara metode kuantitatif dan kualitatif. Data dalam penelitian ini mencakup dua jenis data. Pertama, data teks yang berasal dari 1010 video program keagamaan di TV. Kedua, wawancara dan FGD online dengan tim produksi program keagamaan di televisi, representasi pemerintah dan organisasi masyarakat. Sebanyak dua belas informan kunci berhasil diwawancarai dan hadir dalam FGD online untuk melihat lebih jauh motivasi penayangan program keagamaan di masing-masing televisi baik konvensional maupun non-konvensional.


Perkembangan Program Keagamaan Televisi
Penelitian ini menemukan bahwa kontrol negara mempengaruhi pembentukan fase sejarah perkembangan program keagamaan di televisi Indonesia. Terdapat tiga  fase utama yang telah dilalui oleh program keagamaan di televisi; pertama, fase TV konvensional yang dikontrol ketat oleh negara sehingga hanya diwarnai format acara ceramah monolog dan tilawah qur`an dan dimonopoli oleh TV milik negara (1962-1998); kedua, fase TV konvensional swasta yang berfungsi sebagai entitas ekonomi dengan fokus profit dan berdampak pada tekanan konservatisme agama di layar kaca (1998-2011); dan terakhir, TV non-konvensional yang aktif menggunakan media baru sebagai ruang ekspresi kelompok keagamaan sehingga berdampak pada makin menguatnya konservatisme agama.


Kontrol Negara dan Kontestasi Paham Keagamaan di Televisi
Selain berperan dalam perkembangan program keagamaan di televisi, regulasi dan kontrol negara juga berperan dalam kontestasi paham keagamaan. Kehadiran negara melalui kontrol KPI di ranah televisi konvensional membuat narasi agama yang berkembang cenderung tertutup dan didominasi oleh paham yang cenderung  moderat dan konservatif. Sebaliknya,  ketiadaan kontrol negara berimbas pada variasi paham keagamaan yang berkembang di program agama. Tidak hanya moderat dan konservatif, pemahaman akan agama berkembang lebih luas hingga mampu mengakomodasi pemahaman agama yang dianggap liberal dan islamis. Variasi paham keagamaan meluas di jenis televisi yang luput dari pengawasan negara


Dominasi Konservatisme
Meskipun ada kontestasi paham keagamaan, temuan penelitian ini juga menunjukkan bahwa dari kedua jenis televisi yang diteliti terlihat adanya kecenderungan dominasi narasi konservatisme agama. Proporsi narasi konservatif mencapai 46.3% disusul narasi paham moderat (33.4%), liberal (0.6%), Islamis (0.4%), dan radikal (0.1%). Akan tetapi, karena hanya berdasar pada 2500 narasi dari sampel data penelitian. temuan ini tidak bisa sepenuhnya mewakili seluruh narasi di acara keagamaan televisi,


Motivasi Program Keagamaan dan Basis Ekonomi Konservatisme di  di Televisi Indonesia
Temuan lainnya menunjukkan perbedaan motivasi dan jenis televisi ternyata berbanding lurus dengan perbedaan model narasi yang dikembangkan. Secara umum, perbincangan paham moderat cenderung lebih banyak ditemukan di televisi konvensional di bandingkan televisi non-konvensional yang lebih condong terhadap konservatisme agama. Namun narasi moderat di televisi konvensional dipengaruhi oleh faktor pasar dibandingkan keinginan untuk mengarusutamakan moderasi beragama di ruang publik. Motivasi dakwah dan diseminasi kebenaran agama bukanlah prioritas utama televisi konvensional. Sebagai bagian dari industri hiburan yang memenuhi keinginan pasar, televisi konvensional memproduksi tidak hanya narasi moderat tetapi juga narasi konservatif yang sama-sama menarik penonton. Basis ekonomi dan pertimbangan keuntungan lebih mewarnai motivasi dan proses produksi acara keagamaan di televisi konvensional. Namun hal yang sebaliknya terjadi di televisi non-konvensional. Dakwah berdasarkan ideologi agama menjadi motivasi utama dalam membangun narasi dan berpengaruh besar dalam proses produksi. Dampaknya, berbagai paham keagamaan yang tidak terakomodir di televisi konvensional kemudian secara bebas beredar di televisi non-konvensional. Tidak hanya paham moderat dan konservatif, pemahaman agama yang condong pada cita-cita politik islam (paham islamis) dan paham liberal turut tumbuh subur di televisi non-konvensional. Konservatisme agama juga makin menguat melalui televisi jenis ini.


Popularitas Program Keagamaan di Televisi
Hasil penelitian ini menemukan acara keagamaan di televisi non-konvensional lebih tinggi popularitasnya dibandingkan acara di televisi konvensional. Dilihat dari narasi keagamaan, narasi yang mewakili pandangan konservatif dan islamis cenderung lebih populer dibandingkan narasi yang mencerminkan pemahaman agama yang moderat dan liberal. Perbedaan popularitas ini dipengaruhi oleh sosok yang membawakan narasi tersebut. Popularitas program agama sangat bergantung pada sosok ustadz dan dari televisi mana dibandingkan isi dari tema yang disampaikan . Tema yang sama bisa memiliki popularitas yang berbeda ketika disampaikan oleh sosok ustadz yang memiliki popularitas berbeda. Popularitas ustadz seolah telah menjadi bentuk otoritas baru bagi penyampaian narasi keagamaan.

Relasi parasosial antara masyarakat sebagai penggemar dan ustadz sebagai representasi selebriti agama menjelaskan mengapa narasumber menjadi penentu utama popularitas program agama daripada pesan yang disampaikannya.

Ringkasan Eksekutif  dan Presentasi dapat diunduh pada tautan berikut ini:
Presentasi Launching
Ringkasan Eksekutif Dakwah Digital

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


X